Why So Serious..??!


Pulang ke rumah selalu menyisakan cerita, yang akan gue bawa sebagai kenangan ketika kembali mengembara ke Sumatera. Ini salah satu cerita menarik yang gue dapat selama liburan Idul Fitri kemarin. Bukan sebuah cerita pengalaman, lebih tepatnya ikhtisar sebuah diskusi.

So, Here’s the story..

Seperti biasa, setiap musim liburan, gue dan temen-temen SMA gue ngumpul-ngumpul. Sekedar ngopi bareng sambil cerita kebodohan masa lalu, tertawa bersama, sharing pengalaman, sampai saling tukar informasi dalam menghadapi kerasnya dunia nyata.


Kami janjian malam itu di depan SMA 1 Semarang. Ya, daripada bingung milih tempat. Tempat terbaik untuk ngumpul. Tempat dimana kami dulu mulai saling mengenal. Yap, 6 tahun sudah berlalu sejak kami melepaskan seragam putih abu-abu itu. Orang-orang yang sama, dengan sifat yang tidak pernah berubah. Hanya situasi yang mungkin berubah. Dulu, kami berkumpul, selayaknya seorang anak SMA, tanpa beban. Berani menantang dunia. Tanpa rasa takut, mencoba hal-hal baru, membuat kenakalan-kenakalan konyol dan bodoh. Semua berjalan begitu saja. Tanpa banyak pertimbangan, tanpa banyak pikiran. Murni.

Gue gak yakin separuh dari kami masih memiliki kemurnian, keberanian dan kenekatan seperti 6 tahun lalu. Iya kan, seiring berjalannya waktu, seiring proses kedewasaan seseorang, perlahan semua berubah. Kini kita tidak lagi bertindak seberani dulu. Penuh pertimbangan, penuh pemikiran, penuh kepentingan, yang justru terkadang membuat langkah kita menjadi lamban, tidak lagi segesit dulu. Kemurnian itu perlahan-lahan sirna, seperti minyak yang telah dipanaskan dan dipakai menggoreng tempe. Pekat, sudah tidak terlalu sehat.

Pernah gak kalian merasakannya? Suasananya sudah tidak lagi sama seperti dulu. Dulu, semua berkumpul tanpa sekat. Membaur apa adanya. Semua terasa mulai berbeda ketika beranjak dewasa. Sekat-sekat itu makin melebar, manjadi jarak, yang lantas semakin menganga menjelma menjadi lubang besar yang tidak lagi bisa dilompati bahkan hanya untuk sekedar bertatap muka.

Gue cukup beruntung punya teman-teman yang tidak pernah berubah. Kami masih sama, seperti 9 tahun lalu ketika mulai masuk SMA, berkumpul tanpa ada sekat, saling berbagi satu sama lain. Kami mungkin tak lagi bisa bertemu dan berbagi setiap hari seperti dulu. Ngobrol dan main Explode Arena atau Asphalt via bluetooth di HP Symbian ketika pelajaran berlangsung, ngumpet-ngumpet ngerokok di kantin saat jam istirahat, saling melindungi satu sama lain, nongkrong di warung nasi kucing di depan sekolah, menjelajah kota di akhir pekan, melakukan hal-hal gila bersama-sama, saling support di saat susah. Ahh..sepertinya baru kemarin saat-saat itu.




Alhamdulillah. Gue sangat bersyukur atas ini. Mungkin terlihat sederhana, tapi gue cukup yakin gak banyak yang seberuntung gue, punya sahabat yang tetap lekat, tanpa tergerus waktu. Tanpa berjarak sekat bernama saling pamer, saling sombong. Justru sebaliknya, saling membantu untuk kemajuan bersama. Wonderful, eh..?!

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal yang kita alami dan pelajari selama itu. Selepas SMA, kami mengambil jalan kami masing-masing, ada yang meneruskan kuliah di Hukum, Ekonomi, Kedokteran, Psikologi, Komunikasi, bahkan peternakan. Demikian setelah kami lulus kuliah. Sekarang, Gue jadi auditor abal-abal yang terdampar di Sumatera, ada yang jadi dokter gigi amatiran (alias tidak dibayar, karena masih Koas :D ), ada yang jadi auditor di belantara Kalimantan, ada yang jadi Bankir, ada yang langsung lanjut kuliah lagi, ada yang berwirausaha, ada juga yang masih belum lulus kuliah (Tragiss...  :p ). Bermacam jalan dan pengalaman hidup yang memungkinkan kami mendengar banyak cerita saat ngumpul seperti ini. Seperti melahap beberapa buku dalam satu waktu. Nikmat.

Di tengah canda gurau, salah seorang temen gue, sebut saja ST, seorang calon psikolog labil, melempar sebuah pertanyaan serius, “menurut kalian, apa sih tujuan kita diberi hidup..?!” Sebuah pertanyaan yang sulit, eh..?!  Menurut dia, hidup itu sebuah seleksi, sebuah audisi. Sebuah audisi apakah kita layak untuk ikut serta dalam tahap selanjutnya yang lebih menarik. Lolos tidaknya kita, tergantung usaha kita selama proses audisi. Kayak Audisi Indonesian Idol di kota-kota lah. Kamu bagus, kamu ke tahap selanjutnya, Jakarta. Sebaliknya, Kamu buruk, langsung tersisih, tanpa pernah tahu seperti apa tahap selanjutnya yang lebih menarik itu.




Dia melanjutkan, hidup itu ibarat kita naik kereta. Sebuah kereta yang bergerak cepat ke satu tujuan. Sama seperti kehidupan, terus berjalan menuju satu keniscayaan.. Akhirat.

Semua orang naik kereta itu, ada yang naik dari stasiun pertama, ada yang naik di stasiun selanjutnya. Ada manusia yang lahir duluan, ada yang lahir belakangan. Di dalam kereta, bermacam manusia ada. Ada orang tua, ada pria dewasa macho, ada ABG labil, ada anak kecil. Sama seperti di kehidupan. Di kereta, terkadang ada orang yang naik belakangan, tapi turun duluan. Sama seperti dalam hidup, beberapa orang mati muda, lahir belakangan, mati duluan.

Di kereta, ada orang yang begitu aware dengan sekitar, seperti seorang pemuda yang merelakan kursinya untuk diduduki seorang ibu yang tengah menggendong bayi, atau seseorang yang rela membantu mengangkatkan kopor besar seorang lansia ke tempat penyimpanan bagasi. Tapi ada juga yang cuek, asyik tidur di kursi sambil menempelkan headset di kuping dengan volume maksimal, sementara ada seorang nenek berusia 75 tahun berdiri kepayahan. Bahkan ada yang jahat, mencopet dompet orang lain ketika berdesak-desakan. Sama seperti hidup. Ada orang baik, ada orang jahat.

Kereta bergerak cepat ke satu tujuan. Tapi setiap orang di dalamnya, tidak naik di tempat yang sama, tidak melakukan hal yang sama di dalam kereta, bahkan masing-masing belum tentu punya tujuan yang sama. Ada yang ingin turun di Stasiun A, ada yang turun di Stasiun B. Sama seperti hidup, manusia tidak lahir bersamaan, hidup dengan cara yang berbeda-beda, dan masing-masing memiliki tujuan yang berbeda. Ada yang hanya ingin memburu nikmat dunia, ada yang senantiasa berbuat baik untuk orang lain, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak terlalu menikmati dunia. Semua terserah masing-masing orang. Tapi selamat atau tidaknya sampai tujuan, tanggung masing-masing.




Sebuah analogi yang menarik. Sangat masuk akal. Obrolan terus bergulir deras. ST lantas melanjutkan, baru-baru ini di Barat sana ditemukan adanya gen pembunuh. Sebuah penemuan yang memicu munculnya ide kontroversial untuk menghilangkan hukuman mati dan hukuman seumur hidup untuk pembunuh. Mengapa..?! Ya, karena mereka terlahir dengan gen pembunuh. Jadi bukan salah mereka kalau mereka membunuh, karena mereka terlahir sebagai pembunuh, itu artinya mereka tidak layak dihukum seberat itu. Woow...

Kami berdebat cukup panjang masalah ini. Gue ngotot bahwa pembunuh tetap harus dihukum berat. Karena walaupun dia tidak salah, minimal dia pernah merenggut Hak hidup orang yang dia bunuh. Melanggar HAM. HAM paling dasar, Hak untuk hidup. Kalaupun itu bukan salah si pembunuh, minimal dia harus diamankan agar tidak kembali merenggut hak hidup orang yang lain. Perdebatan kami berakhir tanpa suatu kesimpulan yang sama.

ST lantas bertanya ke gue, “Menurut lu, mana yang lebih kuat mempengaruhi karakter seseorang, bawaan lahir, didikan orang tua, atau lingkungan?” Gue menyebut “bawaan lahir” adalah faktor terkuat. Sudah banyak contohnya. Ada orang yang lahir dari keluarga penjahat, hidup di lingkungan keras, tapi berakhir sebagai orang baik. Sebaliknya, gue juga punya temen yang ayahnya seorang ulama, dibesarkan dengan ilmu agama, tapi berakhir sebagai begundal. ST setuju dengan gue. Dia mencontohkan dirinya sendiri. ST punya kembaran. Kembar identik. Sangat identik. Postur tubuh sama. Gaya yang hampir sama. Orang yang tidak terlalu kenal mereka, akan sangat kesulitan untuk membedakan ST dengan kembarannya. Dia dan kembarannya dilahirkan dari rahim yang sama, dididik dengan cara yang sama, besar di lingkungan yang sama, tapi setelah dewasa, mereka tetap memiliki perbedaan karakter dan sifat. Jawabannya jelas, itu karena “bawaan lahir” mereka sedikit berbeda.

Lantas gue berpikir, kalau memang sifat dan karakter itu bawaan, berarti standart dosa dan pahala itu berbeda dong. Orang yang memang dilahirkan dengan sifat bawaan pemarah dan emosian, tersinggung dikit ngamuk, apakah dia “layak berdosa” karenanya..?! Sama seperti orang yang dilahirkan dengan sifat bawaan sabar, mau dikatain apa aja tetap tersenyum, apakah pahalanya sebanyak orang pemarah yang sanggup menahan emosinya?! 




ST tersenyum mendengar pernyataan gue. “Itu yang gue maksud. Sama seperti perihal sedekah. Orang dengan gaji 10 juta perbulan, sedekah 10 ribu. Apakah sama pahalanya dengan sedekah 10 ribu dari Orang miskin gak punya rumah, di kantungnya hanya ada uang 20 ribu, tapi dia menyedekahkan separuhnya. Apakah sama..?! Kalau sama malah terkesan tidak adil kan..?!”  Spot on.

“Terus kesimpulannya..?!” kata gue.

ST menimpali “Gak ada kesimpulannya. Justru itu menariknya perbincangan tentang kehidupan. Kita berdebat dan beragumen tentang banyak hal, menyelami misterinya, tapi tidak pernah tahu kebenaran mutlak apa di balik itu semua. Menurut gue, yaah.. jalani sajalah. Semaksimal yang kita mampu. Biar Yang Maha Kuasa yang menilai kita”

Menarik. Sangat menarik. Pernahkah kalian berpikir seperti itu? Bahwasanya standart pahala dan dosa masing-masing orang itu berbeda? Karena masing-masing dari kita dilahirkan berbeda. Dengan karakter bawaan masing-masing yang berbeda.

Kalau kamu sebenarnya orang yang sabar, tapi tetap saja marah ketika dijahatin orang, mungkin dosamu akan lebih besar. Jadi pahala atau dosa yang kita peroleh akan tidak sama dengan orang lain, meski kita melakukan hal yang sama. Benarkah..?! Entahlah. Hanya Yang Maha Tahu yang mengetahui rahasia ini. Kita hanya bisa menerka. Kalau menurut gue, lakukan saja terbaik semaksimal yang kita bisa. Perihal perhitungan pahala-dosa yang tadi disebutkan, serahkan saja pada Yang Maha Kuasa.

Diskusi ngalor-ngidul malam itu terus berlanjut.  Satu topik habis, berganti topik yang lain. Terus mengalir tanpa arah yang jelas, tapi sangat bermakna. ST kembali melempar topik menarik. “Gue merasa beruntung lo, dulu kita bandel. Tau gak, Mario Teguh pernah mengemukakan, bahwa orang yang pernah menjadi Bad Boy di masa mudanya itu lebih besar potensinya untuk sukses daripada Good Guy. Karena Bad Boy sudah mengalami banyak hal. Pahit manis hidup. Menurut gue juga gitu, Bad boy lebih luwes, mudah membaur, karena udah kebentuk dari masa-masa silamnya yang bandel. Bad Boy juga relatif lebih tenang dan dewasa dalam menghadapi masalah hidup di kemudian hari, karena di masa mudanya, mereka sudah pernah menghadapi banyak masalah dan kekacauan yang lebih rumit, akibat dari kenakalan dan tingkah polahnya, yang tentu tidak pernah dialami oleh good guy. Sekarang, lihat lah, yang kita lakuin cuma duduk-duduk ngopi sambil ngobrol disini. Kita seneng. Bahagia. Karena kita dulu udah pernah merasakan yang aneh-aneh. Gak seperti orang lain yang dulu good guy, Cuma rumah, ke sekolah, terus pulang. Gak tahu apa-apa di dunia luar. Begitu kerja, tahu dunia luar, punya duit yang bisa membeli semua kenikmatan dunia, baru tahu yang aneh-aneh, malah baru bandel. Telat...”

Pernyataan yang exactly right. Gue juga merasa demikian. Bersyukur gue dulu bad boy. Bolos, berantem, dihukum guru, keluyuran kesana kemari, ditangkap polisi karena ugal-ugalan di jalan, yaah..bisa dibilang sudah merasakan semua kegilaan hidup, yang tentu aja gak mungkin semua gue tulis disini. Privasi, bos..  :D

Sekarang, ketika gue udah bisa cari duit sendiri, gue gak lagi tergoda untuk melakukannya. Semua udah gue abisin jaman SMA dan kuliah. Gue udah pernah mengalami semua kegilaan itu. Nakal dulu baru sukses, bukannya sukses dulu baru nakal.. Owyeaahhh...!!!

Obrolan tak tentu arah terus bergulir. Menyingkap setiap isi otak masing-masing dari kami, yang anehnya, hampir seragam.  Mungkin karena kami tumbuh berkembang mulai mengenal dunia luar bersama-sama, ketika SMA, sehingga secara pemikiran, kami sejalan. Entahlah.

Giliran gue melemparkan topik. “Masih ingat gak jaman kita SMA?! Saat itu kita merasa begitu istimewa. Superior. Ego dengan diri dan kelompok kita. Sombong atas apa yang telah kita raih..” Temen-temen gue tertawa kecil, mengiyakan pernyataan gue.  Gue melanjutkan “Pemikiran itu sekarang udah sirna dari otak gue. Gue sering berpikir kalau lagi di perjalanan, katakan di stasiun, terminal atau bandara. Melihat orang lalu lalang, bepergian ke banyak tujuan, dengan urusannya masing-masing. Semua menganggap urusan mereka penting, padahal untuk orang lain tidak. Ada yang begitu senang karena akan ketemu dengan anaknya di Surabaya, tapi buat gue, ngapain ke Surabaya..?! Kesimpulannya, pada dasarnya kita itu hidup sendiri. Kita lahir sendirian, dan mati juga sendirian. Itulah.. dalam hidup, sebenarnya semua orang bergumul dengan urusannya masing-masing, berputar begitu cepat, dan kalau sekali saat kita memiliki satu urusan dan kepentingan yang sama dengan orang lain, disitulah baru kita berinteraksi.  Selebihnya..?! Ketika kita tidak memiliki kesamaan urusan dan kepentingan dengan orang lain di suatu waktu yang sama, maka kita sendirian. Sesimpel itu.  Yahh.. meskipun dalam beberapa hal, tenggang rasa dan kepedulian masih bisa menyatukan kita, walau tidak memiliki urusan yang sama.. tapi itu sangat jarang..”




Gue melanjutkan.. “Sebenarnya, kita benar-benar gak punya hak untuk sombong. Sebagai contoh, oke, Lionel Messi itu pemain sepak bola terbaik. Tapi apa dia bisa main billiard? Apa dia bisa main badminton? Apa dia bisa ngaudit? Gak bisa. Jadi, Menurut gue, tidak ada tuh kesombongan mutlak. Tidak ada kehebatan mutlak. Seperti contoh Messi tadi, dia memang terhebat di Sepakbola, tapi dia bakal dibantai habis-habisan kalau main billiard lawan Mika Immonen atau main badminton sama Taufik Hidayat. Kalau orang seterkenal Messi aja tidak terlalu pantas untuk sombong, mengapa kita sombong..?!  Bangga akan prestasi kita bolehlah, tapi jangan sombong.  Contoh simpel lain, temen cewek SMA kita, si X. Dia cantik, model, kaya, baik, banyak orang di Semarang kenal dia. Tapi di Padang sana, gak ada tuh yang kenal dia. Jadi, apa lagi yang pantas kita sombongkan..?!  Ya gak...”

ST, si calon psikolog labil, kembali menimpali, “Bener banget. Gini deh gue kasih tahu hal paling gampang buat menyadari hal ini. Gue seneng pergi ke pantai, memandangi ombak, lautan itu kan luas banget, itu baru lautan. Belum darat, dan segala manusia di dalamnya. Jadi pada dasarnya, kita ini hanya sebuah elemen dalam roda kehidupan yang terus berputar dengan cepat. Kita ini apalah. Dunia ini akan tetap berputar walaupun kita tidak ikut nyemplung di dalamnya. Yang menjadi penting adalah, bagaimana kita memberi warna dalam perputaran itu, untuk memberi arti kita dalam hidup..”

Wow. Dalam. Luar biasa. Gak setiap hari kami ngobrol berat macam ini. Kami lebih sering ngobrol ringan ngalor ngidul dan bergurau tertawa lepas. Tapi sharing berat dan dalam seperti ini sangatlah mengena dan bermakna. Kami sudah beranjak dewasa. Pemikiran semakin dewasa. Pengalaman dan cobaan hidup menempa diri untuk menjadi lebih baik.

NGW, temen gue yang lain, lantas kembali membuka perbincangan unik. “Oke, ya kadang gue juga berpikir, apa sebenarnya tujuan kita hidup. Kan bukan berarti kita ingin lolos audisi, tidak sombong, trus kita diem aja dalam hidup..?? Dikasi pas-pasan ya udah. Gak dikasih ya gak pa-pa. Kan gak gitu juga. Namanya payah kalau kek gitu... Apa salah kalau kita punya keinginan, yah, katakan pengen punya mobil, pengen punya rumah, dsb..”




Pertanyaan simpel yang udah lama gue temukan jawabannya. “Gak salah, sama sekali gak salah. Justru keinginan, harapan, dan tujuan itulah yang membuat kita tetap semangat dalam menjalani hidup. Yang menjadi masalah sekarang adalah, apa sih tujuan hidup lu..?! Sekarang gini, kalau tujuan lu kerja supaya pengen punya mobil, lantas lu bekerja keras banting tulang meres keringat untuk mewujudkannya, dan ketika lu akhirnya bisa beli mobil, apa trus lu jingkrak-jingkrak kegirangan banget. Gak kan..?? Oke awalnya lu pasti seneng banget. Tapi udah lepas sebulan, pasti udah berasa biasa aja kan. Yang ada di pikiran lu kemudian pasti what’s next..?? what’s next..?? Jadi men, sebenarnya bahagia itu lebih ke prosesnya, bukan hasilnya. Bagaimana kita menikmati setiap proses yang kita lakukan dalam mencapai tujuan. Jadi begitu tujuan sudah tercapai, selang beberapa saat, kesuksesan itu akan jadi hambar. Biasa saja, sampai akhirnya kamu memutuskan mencari tujuan lain untuk dicapai. Semisal, beli rumah. Tujuan jangka pendek ke tujuan jangka pendek lain. Begitu terus, bekerja keras, tujuan tercapai, senang sesaat, merasa hambar, lalu mencari tujuan lain..”

Kami terdiam, meresapi setiap kata dan makna yang terkandung di dalamnya. Asyik menyelam ke pikiran masing-masing untuk mencari jawaban.

Gue melanjutkan.. “Lu mau tahu resep yang lebih menarik? Tetapkan suatu tujuan besar jangka panjang dalam hidup lu. Suatu tujuan jangka panjang yang hanya bisa dicapai kalau kita berhasil meraih tujuan-tujuan jangka pendek. Sebuah future plan. Kalau gue, tujuan utama gue simpel, ingin bermanfaat buat orang banyak. Termasuk keluarga dan orang-orang terdekat gue. Tujuan menjadi mindset, yang lantas membuat gue berpikir, bagaimana cara supaya gue bisa bermanfaat untuk orang banyak. Gue gak akan bisa bermanfaat untuk orang banyak kalau gue miskin. Boro-boro bermanfaat untuk orang banyak, memberi manfaat untuk diri gue sendiri aja kepayahan kalau miskin. Karena itulah gue bekerja. Dapet duit. Senang..??! tentu. Tapi gue lantas gak merasa hambar dan idle terlalu lama. Karena punya duit bukan tujuan utama gue, hanya sebuah tujuan jangka pendek menuju tujuan utama : bermanfaat untuk orang banyak..”

“Bodoh namanya kalau gue punya cita-cita seperti itu, tapi gue gak bisa membahagiakan keluarga gue sendiri. Caranya macam-macam. Misalnya salah satunya, yah, biar kalau pengen ngajak nyokap jalan-jalan, nyokap gue gak kepanasan, gak kehujanan, gue harus punya mobil. Jadi gue bekerja keras untuk mewujudkannya. Setelah gue akhirnya berhasil beli mobil, gue gak merasa hambar, karena tujuan gue bukan punya mobil, tapi bermanfaat untuk orang banyak, sampai fase ini tentu saja nyokap gue sendiri. Dan terus begitu seterusnya. Jadi setiap gue berhasil memenuhi satu tujuan jangka pendek, gue tidak merasa hambar, karena gue punya tujuan jangka panjang yang belum tercapai, bermanfaat untuk orang banyak.. Jadi gue terus terpacu untuk bergerak, mendekat ke tujuan, tanpa sekalipun merasa kesuksesan-kesuksesan kecil gue hambar..  Yaah.. itu kalau gue ya. Terserah lah apa tujuan jangka panjang yang pengen lu raih. Menurut gue, mindset seperti ini lebih renyah dan gurih untuk dijalani..”

“gak nyangka gue sekarang lu punya pikiran kayak gini... Tapi yakin deh, kalau kita udah paham makna dan tujuan hidup, kita akan lebih ikhlas dan santai menjalaninya. Menghadapi setiap masalah dengan senyuman, menikmati setiap kesuksesan dengan tawa..  Ikhlas...” ST menimpali gue.
“Men, hidup mengembara jauh dari rumah itu kejam. Dari situlah gue belajar banyak tentang hidup. Pemikiran gue emang banyak berubah. Tapi bener dah, gue masih tetap seperti dulu. Santai dan apa adanya. Jangan terlalu serius laah....” kata gue.


 
Obrolan ngalor-ngidul kami terus berlanjut seiring hangatnya kopi yang di-sruput. Bermacam cerita diungkapkan. Berbagi pengalaman pahit manis hidup, mulai dari cerita ST yang dikejar-kejar Debt Collector karena motor yang dia jual secara Oper Kredit ternyata macet angsurannya oleh pemilik baru yang gak ketahuan keberadaannya, NGW si bankir newbie yang bercerita tentang kebusukan kejahatan perbankan level atas di Indonesia, AD yang masih saja galau memikirkan langkah apa yang akan diambilnya setelah (akhirnya) wisuda sebentar lagi, gue yang berbagi cerita kebusukan koruptor-koruptor kelas teri yang gue audit sampai pengungkapan fakta bahwa mustahil untuk menemukan penjual tahu gimbal di Padang, dan tak lupa cerita cinta yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Semuanya mengalir begitu saja, tanpa hambatan, tanpa sensor. Murni, apa adanya. Semurni persahabatan jaman SMA dulu, yang Alhamdulillah masih terus terjaga sampai sekarang. Tanpa sekat, tetap lekat.

Adzan Shubuh berkumandang, membubarkan acara ngumpul-ngumpul kami malam sampai pagi itu. Bermacam makna dan cerita menarik gue dapat malam itu. Itulah menyenangkannya persahabatan dan ngumpul-ngumpul. Dimana kita bisa saling berbagi cerita, membagi suka dan duka, saling support satu sama lain. Sedaaapp..


Terus Kesimpulan tulisan ini apa...?!


Jiahhh...Ngapain nanya kesimpulan..?! Kan tadi udah dibilang, Gak ada kesimpulannya. Justru itu menariknya perbincangan tentang kehidupan. Kita berdebat dan beragumen tentang banyak hal, menyelami misterinya, tapi tidak pernah tahu kebenaran mutlak apa di balik itu semua. Mengambang samar-samar seperti air pipis yang dikeluarin di kolam renang.

yaah.. jalani sajalah.. Sebaik dan Semaksimal yang kita mampu.. Santai ajalah..

Why so serious..??!  :D
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. Racauan kereen...!!
    Tulisan ngalor ngidul tapi menebar makna di setiap tikungannya..

    Nice post bro.. :)

    BalasHapus
  2. "Semua terasa mulai berbeda ketika beranjak dewasa. Sekat-sekat itu makin melebar, manjadi jarak, yang lantas semakin menganga menjelma menjadi lubang besar yang tidak lagi bisa dilompati bahkan hanya untuk sekedar bertatap muka"

    Suka banget kalimat ini..
    renyah.. :D

    BalasHapus
  3. Makasih komennya bro-bro sekalian.. :)

    BalasHapus
  4. sayang aku gak bisa gabung malam itu...

    BalasHapus
  5. Anonim.. siapa yaa..??!! :D

    BalasHapus
  6. Nice Share..

    menyelami akan makna kehidupan,
    yang terus menjadi misteri..

    BalasHapus