Ibukota Lebih Kejam



Sekejam-kejamnya Ibu tiri, tetap lebih kejam Ibukota. Begitu banyak orang bilang. Well, menurut gue, pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak salah. Ini semua tetap tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Jika kita melihat seorang anak jalanan, baginya Jakarta itu kejam. Kekerasan di jalanan, susah cari makan, masih ditambah dikejar-kejar Pamong Praja kalau ada razia. Tapi jika kita melihat seorang pengusaha, yang kaya raya, tajir mampus, baginya Jakarta itu surga dunia, semuanya ada, fasilitas lengkap, segala macam hiburan dan kenikmatan dunia, tersedia di Jakarta. Ironi bukan?

Lalu, bagaimana menurut sudut pandang gue? Well, kalo menurut gue sih, semuanya tergantung bagaimana cara kita bawa diri aja. Kata banyak orang, Jakarta itu rawan kejahatan, seperti copet, jambret, preman dan sebagainya. Jangan tanya alasannya, namanya juga Ibukota Negara, Jakarta seperti magnet, segala macam manusia dengan keanekaragaman dan semua sifat unik dari seluruh Indonesia berdatangan, penduduk Jakarta membludak, berakibat menjamurnya pengangguran, berujung pada kemiskinan, yang akhirnya memicu kriminalitas. Menyedihkan memang, but that’s the truth. Tapi, menurut gue, sepanjang kita bisa jaga diri, semuanya akan baik-baik saja (semoga). So, girls, Jangan pernah berniat untuk naik metromini dengan memakai rok mini, tanktop, kalung emas, cincin berlian, dan jam tangan rolex. Itu sama saja dengan menyerahkan diri. Jangan berlebihan, jaga sikap, dan selalu waspada. Seperti kata Almarhum Kasino Warkop di salah satu filmnya (gue lupa yang mana),”Hidup di Jakarta, kita musti lihai. Kalo gak, kita yang di-lihai-in orang”

Gue sering menemui kriminalitas di kota ini, dan bahkan menjadi korban!! Gue pernah ditodong preman di stasiun. Pernah hampir ditipu orang. Pernah juga waktu lagi jalan sama temen, HP temen gue hampir dicopet di kereta. Belum lagi cerita yang gue denger dari temen temen gue. Udah gak keitung jumlahnya, ada yang dipalak, dimintain duit. Bahkan pernah ada temen gue ditodong pake pisau, HP-nya diminta. Ada juga yang kecopetan atau hampir kecopetan di angkot atau bus. Yang paling parah, temennya temen gue sampai harus cuti kuliah satu semester gara-gara ditusuk belati dari belakang waktu naik KRL. Parah! Kejam! Biadab! Maka dari itu, selalu perhatikan sekelilingmu!!

Itu baru soal kriminalitas, apalagi soal kekerasan. Hampir setiap hari ada orang yang berantem di Jakarta. Mulai dari antar awak bus yang rebutan penumpang, tawuran pelajar antar sekolah, perkelahian massal suporter sepakbola, bahkan juga, perkelahian antar 2 cowok yang sedang memperebutkan cinta seorang wanita. Pathetic.

Soal kekerasan dan perkelahian ini, gue pernah beberapa kali terjebak di dalamnya, meski gak secara langsung. Secara kebetulan gue berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Dalam bahasa Jawa, ini disebut the wrong man in the wrong place at the wrong time.
Konyolnya, biasanya perkelahian-perkelahian macam ini dipicu oleh hal-hal yang unik, yang sebenarnya kalau kedua belah pihak bisa berpikir jernih dan tidak mengedepankan emosi, tidak perlu terjadi.

Ini salah satu cerita tentang itu, ini kejadian waktu gue mau pulang ke Semarang. Gue sendirian waktu itu. Karena gagal menemukan “korban” yang mau nganterin gue ke stasiun, gue akhirnya terpaksa naek angkutan umum. Waktu itu, gue rencana mau naik kereta sore yang jam 16.15, berangkat dari Stasiun Pasarsenen. Hari itu gue ada kuliah sampai jam 2. Gue udah packing barang malemnya. Normalnya, Bintaro-Stasiun Pasar Senen naik angkutan umum makan waktu 2 jam. Jadi, menurut perkiraan, selesai kuliah jam 2, langsung berangkat, pas jam 4 udah di Senen. Dari kosan gue, rutenya naik angkot dulu ke Cipulir, baru oper naik bus patas P.44 jurusan Ciledug – Senen.

Petaka sudah dimulai dari perjalanan naik angkot ini. Gue naik angot yang sepi, dengan harapan perjalanan akan nyaman. Pilihan yang salah, karena ada teori tak tertulis soal naik angkot, bahwa kenyamanan itu berbanding terbalik dengan kecepatan. Semakin ramai angkot (yang artinya semakin sumpek di dalamnya) semakin cepat angkot melaju. Semakin sepi angkot (yang artinya nyaman di dalam), maka si sopir akan jalan sangat perlahan sambil lihat kanan-kiri nyari penumpang. Itu masih mending, dalam beberapa kasus, biasanya angkot bakalan ngetem dulu di suatu tempat nunggu penumpang. Wasting time.

Begitulah, angkot yang gue tumpangin jalan pelan pelan banget. Otak gue mendidih, selain karena cuaca panas banget siang itu, juga karena emosi sama si sopir angkot. Gue bisa ketinggalan kereta kalau gini.

Nyampe Cipulir, jam uda menunjukkan pukul 15.30. Satu setengah jam!! Padahal, kalau naik motor sendiri, dari kosan gue ke Cipulir paling lama setengah jam. Great.. waktu gue tinggal 45 menit sebelum kereta berangkat!! Untungnya gak terlalu lama, selang beberapa menit busnya dateng. Gue sedikit lega. Kalau lancar, paling setengah jam bisa sampai senen. Karena masih jam kerja, busnya sepi. gue leluasa milih tempat duduk. Setelah mendidih di angkot, naik bus patas dan dapat tempat duduk sudah merupakan sebuah kemewahan.

Setelah itu, segala sesuatunya berlangsung lancar, jalan gak macet, dan bus melaju kencang. Kalau semuanya tetap seperti ini, gue bisa nyampe senen jam 4. Aman.

Tapi sebuah kejadian tak terduga terjadi. Ada seorang bapak yang mau turun di Plasa Indonesia, tapi dia gak konfirmasi dulu ke kondektur bus kalo mau turun di PI. Celakanya, pas lewat PI, busnya lagi melaju kencang di lajur paling kanan. Terang aja, meski sang bapak teriak – teriak, “kiri,bang!!”, supirnya tidak bisa berhenti saat itu juga. Sedikit demi sedikit, si supir mengarahkan bus ke lajur kiri, sampai akhirnya berhenti, tapi itu udah jauh banget dari PI, tepatnya persis di depan Sarinah. Terang aja si bapak dongkol, karena dia musti jalan jauh, di tengah cuaca yang mendidih. Bapak itu melangkah keluar bus lewat pintu depan.

Ketika melewati kokpit supir (Halah..kokpit) si Bapak sempat-sempatnya ngedamprat supirnya..
“Orang mau turun di PI, malah diturunin disini.. gimana sih..?!”
“Lah, salah bapak sendiri, kenapa ga bilang daritadi. Mana bisa berhenti di lajur kanan?”
“aahhh... t** lu..!!”
“Apa kata bapak..??” sembari mengucapkan kalimat itu, si supir “menyentuh” muka bapak itu dengan tangan terkepal.
Si Bapak terpental, tapi dia ga mau kalah, dia bangkit, dan ganti mukul Supir. Yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, acara “Ultimate Fighting Championship” yang dulu pernah ditayangin di salah satu televisi swasta, kembali tersaji. Keduanya saling pukul dan dorong, sampai akhirnya si bapak terpental keluar bus. Gak berhenti sampai disitu, supir juga turun dari bus, dan pertandingan “Ultimate Fighting Championship” berpindah tempat ke trotoar. Andai Don King yang promotor tinju kelas wahid ada disini, dia pasti bakalan mengontrak kedua orang itu buat tanding tinju di Las Vegas. Ratingnya bakal tinggi.


TKP (Tempat Kejadian Perkelahian) - Tanda X

Lagi asyik – asyiknya nonton “Ultimate Fighting Championship”, seorang ibu nepok gue,
“mas, kamu itu gimana sih? Kok malah diem aja? kamu kan cowok..!! Dilerai dong” teriak sang ibu histeris.
“Lhah.. Ibu gak lihat saya bawa tas segede gini?? Lagian tu 2 orang badannya gede semua, bisa jadi mendoan kalau ikut – ikutan..!! Jangan saya, bu.. yang ada nanti saya yang remuk..” jawab gue, yang masih lebih mikirin keselamatan gue daripada keselamatan bapak itu.

Untunglah, Sejurus kemudian, 2 orang polisi yang sedang tugas jaga di pos perempatan Sarinah, datang. Kedua polisi ini melerai supir dan si bapak yang sedang baku hantam. “Ultimate Fighting Championship” telah berakhir, dan pertandingan dinyatakan seri karena belum ada yang menang. Kedua petarung diamankan ke pos polisi perempatan Sarinah. Ketegangan mereda, suasana menjadi tenang sekarang.

Kemudian gue sadar, ada sesuatu yang fatal. Kalau supirnya diamankan polisi, siapa yang bakal nyupir bus ini ke senen??
Maaak Jaaannggg.. gue beneran bisa ketinggalan kereta..
Sontak gue liat jam, 15.55, tinggal 20 menit lagi!!
Gue kemudian menawarkan diri pada para penumpang buat gantiin supirnya. Pada mulanya mereka setuju, tapi belakangan mereka menolak, karena ternyata gue gak punya SIM B. Rupanya mereka masih lebih mengutamakan keselamatan daripada cepat sampai tujuan. (bagian terakhir ini cuma rekayasa)

Tapi ternyata operator bus ini mempunyai motto “mengantar anda sampai tujuan”. Entah karena memang sudah prosedurnya, atau karena kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya (atau malah mungkin sering terjadi??) , kondektur bus a.k.a kenek, dengan tanggap mengambil alih kemudi. Yes!! Gue berharap semoga dia masih ada hubungan darah sama Michael Schumacher, pembalap legendaris Formula 1.

Tapi harapan gue meleset. Boro – boro hubungan darah dengan Schumacher, bahkan hubungan darah dengan Rifat Sungkar aja dia gak ada. Cara mengemudinya parah. Beberapa kali busnya mati gara-gara timing melepas koplingnya gak pas. Gara-gara skill nyupirnya yang parah itu, jalannya bus jadi ndut-ndutan. Terkadang ngeremnya mendadak. Payah!! Biar kata gak punya SIM B, gue cukup yakin bisa nyetir bus lebih baik dari kenek itu.

Gue tambah panik, waktu gue tinggal sedikit.
Akhirnya, setelah perjalanan yang gak nyaman, nyampe juga di Terminal Senen. Jam sudah menunjukkan 16.10. Padahal, stasiunnya ada di seberang terminal.
Tanpa ba-bi-bu, gue langsung ngabur keluar bus, lari kenceng. Sampai loket karcis, 16.13,
“Mbak, tiket kereta kertajaya, ke Semarang satu” kata gue,
“Uda berangkat keretanya, mas” jawab mbak penjaga loket (selanjutnya kita singkat aja jadi MPJ)
Gue panik, sontak gue melihat ke dalam stasiun, Alhamdulillah, keretanya masih ada!!
“Lhah, itu bukan keretanya mbak? Masih ada kok.” Kata gue pada MPJ.
“Oo..masih ada to mas? Saya kira sudah berangkat..” jawab MPJ, santai, tanpa rasa bersalah.
“Yaudah mbak, cepetan, ke semarang satu!! Keburu keretanya berangkat!!” gue setengah bentak, emosi.
“oooh..ya,ya..” jawab MPJ, sadar gue udah emosi, dan bisa sewaktu-waktu nglempar dia pake sepatu.

Dengan cekatan MPJ melayani gue, ngasih tiket, nerima duit, ngasih kembalian.
Jebret.. gue langsung lari ngibrit. Gue gak berhenti dulu di pintu pemeriksaan karcis peron. Sudah gak keburu. Gue cuek aja waktu diteriakin petugas penjaga pintu.
Gue nyari gerbong gue, masih sambil lari, ketemu, langsung loncat ke dalam.
Gue nyari kursi gue, duduk, dan bersamaan dengan menempelnya pan*** gue di kursi, keretanya berangkat. Gila!! Nyaris banget!! Keringet gue udah bercucuran, nafas ngos-ngosan. Tapi untung, gak ketinggalan kereta. Nyaris!!

Gara-gara ada perkelahian, gue hampir ketinggalan kereta. Nambah lagi salah satu akibat buruk perkelahian, bisa menyebabkan orang yang lagi mau naik kereta jadi hampir ketinggalan kereta. Percayalah, perkelahian tidak menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar