Rez

Off for a while!

100%

Put your email here if you want:

Comeback Later....
Copyright © Rez

Ibukota Lebih Kejam (Part 2)


Gak cuma sekali gue terjebak dalam situasi perkelahian. Bahkan, pada kesempatan kali ini, gue terjebak dalam perkelahian massal. Seperti yang sebelumnya, kejadian ini lagi-lagi terjadi gara-gara alasan yang sepele. Dan sekali lagi, gue jadi the wrong man at the wrong place at the wrong time.

Ceritanya bermula ketika gue mau beli stik billiard pertama gue. Sudah lama sebenarnya gue ingin beli stik billiard, tapi baru kali ini berhasil mengumpulkan duit sendiri. Karena masih pemula, gue maunya beli stik yang biasa dulu, yang harganya murah. Meskipun sebenarnya, alasan utamanya adalah dana yang minim.

Untuk menjalankan niat mulia ini, gue sudah siapin budget 350ribu, karena memang, stik yang biasa aja, pasarannya segitu. Perlu kalian ketahui, duit itu hasil keringat gue sendiri. *Mendongakkan kepala* Yang 150ribu itu dapat komisi dari Baladraf, hasil jadi makelar dadakan buat jual Motor Mio-nya tempo hari. Sedangkan yang 200ribu hasil keuntungan jualan pulsa eceran.

Waktu itu gue belum tahu tempat jual stik yang bagus di Jakarta. Karena itu, gue minta tolong Baladraf buat nemenin gue. Gue sudah buat janji untuk pergi hari Sabtu pagi. Di hari H, gue baru bangun jam 9. Ya, Jam 9. Itu sudah bagus. Kalau gak ada janji, kalau hari libur, gue biasanya baru bangun jam 11an, bahkan lebih. Memalukan memang. gue langsung telpon Baladraf. Manusia satu ini bertipe sama kayak gue. Gue sudah telpon berkali-kali, tapi gak diangkat. Baru akhirnya diangkat pada percobaan ke-5 ato 6.

"woy..ngapa?" masih ngelantur omongannya.
"jadi gak nemenin nyari stik?" jawab gue.
"yasudah, lu nyamperin gue kesini ya" kata dia, masih belum sepenuhnya sadar.
"kemana? Kosan lu yang di kemayoran? Mana gue tau?" jawab gue.
"santai, gue kasih petunjuknya. Gampang kok" jawab dia.

Menyadari bahwa dia baru bangun tidur, dan belum sepenuhnya sadar, gue agak ngeri juga. Jangan jangan petunjuk yang dia kasih ngawur. Bukannya nyampe Kemayoran, malah nyasar ke Kenjeran di Surabaya.

"Tepatnya gue kos di daerah sumur batu. Nah,dari monas lu lurus aja, ngikutin jalan, trus bla..bla..bla..bla..bla..." kata dia. (sengaja gue sensor, soalnya petunjuk yang dia kasih panjang banget. Bisa habis dua paragraf kalau ditulis)
Menyadari gue ini pelupa, gue ambil kertas, trus menggambar peta sederhana dari petunjuk jalan yang disebut baladraf.
"nah..kalau sudah nyampe pasar sumur batu, ntar lu sms ato nelpon gue aja, ntar gue samperin." kata baladraf mengakhiri ceramahnya soal rute jalan Bintaro-Sumur Batu.
"oh..ya.ya.ya..".
"ngerti kan?" kata dia.
"ok dah. Semoga aja gak nyasar. Tunggu aja kabar dari gue. Jangan tidur lagi lu!!" kata gue.
"okay. Ati ati ye!!" kata dia mengakhiri pembicaraan.

Setelah itu, standart aja, gue mandi, nyari makan dulu, dan langsung berangkat.
Berbekal peta acak kadut made in dhewe, gue mulai menyusuri jalanan ibukota, yang selalu lengang di akhir pekan. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya gue sampai juga di pasar Sumur Batu dengan sukses. Gue nelpon baladraf, ngabarin kalau gue sudah nyampe pasar sumur batu.
"wow,cepet juga. Ga nyasar kan?" kata dia.
"gag kok. Sudah, buruan kesini, panas Om!" jawab gue.
"ok. Tunggu bentar ye, 5 menit lah. Nah, lu mau nungguin dimana?" kata dia.
"di depan gue ada gang, paling gue nunggu disitu aja. Kalau nunggu di pasar gak dah. Sumpek. Panas!" jawab gue.
"okay." kata dia.

Telpon ditutup. HP gue kantongin. (ya iyalah, masak dibuang? Sayang) Di deket gapura gang itu, ada warung. Pas banget. Bisa berteduh sekalian beli minum, haus banget, Jam 11 di Jakarta, matahari lagi lucu-lucunya. Tenggorokan sudah berasa kayak disilet Feny Rose. Gue nongkrong di depan warung, minum teh botol sama ngemil roti.

Tak berselang lama, baladraf makbedunduk (bahasa jawa. Artinya tiba-tiba) muncul dari salah satu gang di dalam gang yang tadi gue masukin.
"wah, jago juga lu, cuma dikasih petunjuk gitu aja bisa nyampe sini. Ga nyangka juga lo, kirain tadi lu ga bisa nyampe sini" kata dia.
"yah, bukan sombong, tapi emang, daridulu gue kalau soal nyari alamat, Alhamdulillah bisa ketemu terus. Hehe.." jawab gue.

Bukannya langsung ngajak ke kosannya, Baladraf malah ikut duduk dan ngambil teh botol ma ngemil roti.
"trus kosan lu dimana?" kata gue
"kalau kos gue sudah kelewat, sebelum pasar tadi. Semalem gue nginep kosannya Adi, lu kenal kan?" kata dia.
Ya, gue kenal Adi. Adi ini juga mahasiswa STAN D3 Khusus seperti Baladraf. Adi ini temannya Baladraf, suka billiard juga. Kebetulan juga Adi ini orang Semarang.
"oh, mas adi? dia kos di daerah sini juga?" jawab gue.
"ya.." kata baladraf. "ouya, soal stik, sebenarnya gue biasa beli di Reys Senayan, barangnya bagus bagus, sudah langganan, jadi bisa dapet murah. Tapi kalau sabtu tokonya tutup. Lagian tadi gue nelpon orangnya katanya barangnya lagi kosong" lanjutnya.
"trus gimana dong?" kata gue.
"ya ntar coba liat dulu di toko toko daerah sini, siapa tahu ada yang bagus." jawab dia.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, selanjutnya gue ma baladraf ke kosannya adi, ngambil barangnya dia (jangan salah paham, maksudnya ngambil barangnya Baladraf, bukan barangnya Adi, emang maling!!) Lalu lanjut ke kosannya Baladraf, nungguin dia mandi dulu. (jangan salah paham lagi, gue nunggunya di teras!!)

Tempat pertama, gue lupa namanya, pokoknya dekat stasiun kota. Barangnya sedikit, gak ada yang tertarik. Lanjut, tempat kedua, Isak billiard, di Pengeran Jayakarta, Tutup. Lanjut, tempat ketiga, Kenari billiard di Salemba. Sebenarnya bukan toko, tapi tempat billiard, tepatnya di lantai paling atas gedung Kenari Mas. Disini juga jual stik. Tapi sayang, Barangnya mahal-mahal, duit gue gak nyampe.

Perjalanan dan waktu untuk mendatangi 3 tempat aja di Jakarta, diperparah dengan jalanan yang ruwet, sudah sama kayak muterin seisi kota Salatiga (Kota kecil di selatan Semarang). Gue sudah capek, Baladraf juga. Gue nyerah gak bisa dapet stik hari itu juga.
"Kalau mau nyari stik murah tapi bagus itu emang harus sabar. Tau sendiri kan, stik murah yang di tempat pertama tadi gak bagus" kata Baladraf, kali ini settingnya masih di Kenari.
"iya sih. Trus gimana enaknya?" kata gue.
"sudah, gini aja, gue pesenin di langganan gue yang di senayan aja ye, tapi ya ga sekarang. Nunggu barangnya dateng, paling 2-3 minggu lagi." kata baladraf.
"yasudahlah, gak pa pa. Daripada dapet barang jelek, mending sabar." kata gue.
"yasudah, mumpung kita sudah nyampe sini, maen aja gimana?" kata daf.
"ok. tapi gak lama-lama ya. Gue jam 8 ada janji ma teman gue di bintaro" kata gue.

Gue ada janji dengan galang ma anak-anak, mau nonton bareng Mu-Liverpool di Burger Grill Bintaro. Sebagai pendukung Liverpool, gue pastinya ga mau ketinggalan big match ini.
"emang mau kemana?" kata daf.
"mau nobar mu-liverpool" jawab gue.
"Wah,cocok, gue juga pengen nonton. Sudah, nonton ma guea ja" kata daf.
"dimana?" kata gue
"gampang lah ntar?" kata daf.
"ok dah" jawab gue, diikuti dengan gerakan mengambil HP dari kantong, trus sms galang, ngabarin kalau gue gak bisa nobar bareng dia.

Kami main di Kenari sampai sekitar jam 6, balik ke kosan Baladraf, lalu lanjut cari makan. Setelah melalui perdebatan panjang di warung makan, akhirnya kami sepakat mau nobar di Kemang.
Selesai makan, kami langsung ke Kemang. Tapi naas, rame banget, kami gak dapet meja, cuma kursi aja. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Liverpool 4-1.

Jam 12, Baladraf ngajak pulang. Dan gue musti nganterin dia. Ya iyalah, daritadi dia nebeng gue, masak suruh jalan kaki dari Kemang ke Kemayoran? Kasihan.

Dan seperti umumnya cowok, gue gampang banget laper. Biar kata sebelum ke kemang sudah makan, dan di kemang sudah minum 2 gelas coklat, gue sudah laper lagi. Di perjalanan, gue nyeletuk,
"mas, sudah laper lagi nih.. Makan lagi gimana?"
"wah, cocok, gue juga sudah laper. Di depan gang kosan gue ada nasi goreng enak, bukanya sampai pagi, ntar makan disana aja" jawab dia.
Kamipun berhenti di warung nasgor di depan gang kosannya Baladraf, dan disinilah peristiwa itu terjadi. Kami makan sambil ngobrol ngobrol santai, ketika tiba-tiba..

6 orang cowok, umurnya sekitar 25-an, mengendarai 3 ekor motor, berhenti di pinggir jalan depan warung nasgor. Mereka ngobrol teriak-teriak, sembari ketawa ngakak kenceng banget. Melihat gelagatnya, orang-orang ini pasti lagi kobam (mabok maksudnya).
Berjarak sekitar 10 meter dari warung nasgor, ada gang, dimana ada seorang bapak-bapak lagi nongkrong. Karena merasa terganggu dengan enam orang mabok (selanjutnya disebut EOM), si Bapak kontan menghardik mereka, "sst..jangan teriak-teriak!!"

Namanya juga lagi kobam, bukannya diem, para EOM malah merasa tersinggung, mereka tinggalin motor mereka, dan nyamperin si Bapak. Apa yang terjadi saudara-saudara?

Tanpa ba-bi-bu, para EOM mengeroyok bapak-bapak itu, seperti para agen Smith mengeroyok Neo di film The Matrix. Bedanya, Neo bisa menang walau dikeroyok ratusan orang, si Bapak keok dikeroyok EOM.

TKP (Tempat Kejadian Perkelahian) - Tanda X


Sadar kalah dan bisa jadi tempe penyet kalau tetap disitu, si Bapak berhasil kabur, masuk ke dalam gang, berniat hendak mencari bantuan. Sebagian EOM mengejar bapak itu. Luar biasa, tak berselang lama, sekitar sepuluh orang keluar dari gang itu, gantian mengejar para EOM. Malah ada juga yang bawa batang kayu sama pipa besi.

Sadar kalah jumlah, para EOM memilih kabur. Tapi naas, salah satu dari EOM ketinggalan,dan tertangkap warga. Bisa ditebak, salah satu dari EOM yang ketinggalan (selanjutnya disebut SSDEOMYK) langsung dihajar massa yang telah tersulut amarah. Dia dipukul, digebuk dengan kayu, jatuh ke tengah jalan, lalu diinjak-injak. Ngeri. Semuanya terbakar emosi. SSDEOMYK tak berkutik terkulai lemas di tengah jalan.

Kejadiannya berlangsung dengan cepat. gue melongo, gak berani berbuat apa-apa. Baladraf bilang, "kita diem aja disini, gak usah ikut-ikut". Adrenalin gue meningkat, melihat tontonan anarkis seperti ini persis di depan mata. Biar sudah jam 1, masih banyak yang lewat situ. Kebanyakan cuma numpang lewat aja, entah karena memang kejadian seperti ini ssudah biasa, atau karena males ikut-ikutan.

Kemudian, ada kejadian yang lebih gila. Ada seorang cowok naek tiger (selanjutnya disebut SCNT) lewat. Entah karena gak tega dengan SSDEOMYK, atau alasan lain, dia berhenti. Si SCNT berusaha menenangkan warga. Bukannya tenang, malah warga tambah emosi, beberapa diantaranya malah menyerang SCNT.
"apa lu ikut-ikutan, lu temannya?" teriak seorang warga.
"ga bang, saya cuma mau melerai" bela SCNT.
"ahh.." teriak seorang warga lain, sembari melayangkan bogem mentah ke SCNT.
SCNT, yang merasa tidak bersalah (dan memang dia tidak salah), masih berusaha membela diri. Tapi warga tak lagi peduli. Mereka telah dibakar emosi. Dengan liar, beberapa warga menyerang SCNT.
SCNT langsung lari menjauh, tanpa mikirin motornya. Dia tinggalin motornya, dan lari. Sekitar 50-an meter, warga berhenti mengejar SCNT. Karena merasa gak terima, dari kejauhan gue melihat SCNT ngambil HP, nelpon, sepertinya minta bantuan.

Dan bener aja, tak berselang lama, serombongan teman-teman SCNT dateng. Karena SCNT digebukin padahal gak salah, mereka merasa berkewajiban untuk membelanya. Mereka (teman-teman SCNT) secara frontal menyerang warga. Keadaan tambah parah. Sudah gak jelas lagi siapa menyerang siapa. Chaos. Perang Sasudahra. Semua orang asal pukul, teriakan makian seisi kebun binatang keluar. Sudah gak terhitung lagi berapa kali kata "anjing", hewan paling populer di Indonesia, diteriakkan.

Gue makin ngeri, gue takut aja kalau gue kena sasaran juga. SCNT yang gak salah aja kena, berarti gue juga bisa. Tapi Baladraf bilang, "santai aja, yang penting ga usah ikut-ikut. Diem aja disini."
Dalam keadaan semrawut itu, gue melihat si SSDEOMYK masih tergeletak lemas di tengah jalan, sudah gak bergerak, tapi masih bernafas. Dia sudah "habis" dihajar massa.

Keadaan makin parah, di depan gue yang tersaji sudah bukan lagi "Ultimate Fighting Championship" , tapi Perang Padri. Penjual nasi goreng, yang daritadi adem ayem, mulai jengkel dengan keadaan. Dia nyeletuk,
"wah, sudah keterlaluan nih, harus segera dihentikan!" katanya, selayaknya seorang superhero.
dia ngambil HP. Ternyata dia nelpon polisi.
"Pak, di Sumur Batu, dekat pasar, ada kericuhan massal. Tolong segera kesini" katanya. Melihat gelagatnya dalam memberi instruksi, mungkin dia adalah seorang anggota polisi yang sedang menyamar jadi penjual nasi goreng. Istilahnya intel. Wow.. (bukan..bukan, yang terakhir ini cuma khayalan gue aja, kebanyakan nonton film action)

Keadaan belum mereda. Demikian degup jantung gue. Makanan gue sudah habis daritadi. Gue juga sudah ngantuk berat. Tapi gak mungkin gue pergi dari situ sekarang. Jalan pulang melewati pusat kerusuhan. Gue bisa jadi Bandeng presto kalau nekat lewat.

Tak berapa lama, Polisi datang. Beberapa orang mencoba kabur, karena gak mau berurusan dengan polisi. Sebagian diantaranya berhasil kabur. Tapi sebagian tidak. Polisi langsung bertindak, mengamankan suasana. Kerusuhan terhenti.
Gue sudah males disini. Karena keadaan sudah reda, kami pergi. Gue anterin Baladraf balik ke kosannya, yang cuma berjarak 20-an meter dari warung nasi goreng.
"Langsung balik lu?",kata daf.
"gak lah, nongkrong dulu bentar, biar sepi dulu. Ntar salah-salah gue ikut keciduk polisi lagi.." kata gue.
alhasil, gara gara kerusuhan itu, gue musti nahan ngantuk lebih lama, nongkrong dulu di kosannya daf.

Karena kosannya daf deket banget ma TKP, masih terdengar teriakan teriakan ma umpatan umpatan kecil. Kami ngbrol-ngobrol aja mengisi waktu. Akhirnya, setelah gue rasa keadaan sudah tenang, gue mutusin buat balik. Sudah jam 3 lewat waktu itu. Mata gue udah redup. Padahal tadi rencana selesai makan gue mau langsung pulang Bintaro. Harusnya tadi jam 1 gue sudah pulang, jam 2 kurang udah di kosan, langsung tidur. Eh, ini molor jadi jam 3. Satu lagi dampak negatif kekerasan, membuat orang yang niatnya pulang jam 1 jadi pulang jam 3. Wasting time.

Yah.. meski lagi-lagi gue menjadi the wrong man at the wrong place at the wrong time, paling gak, hari itu gue dapat pengalaman yang gak bakal gue lupain, terjebak dalam kericuhan massal yang dramatis. Hidup memang gitu, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang beruntung, kadang buntung.

Dan sekali lagi perkelahian terjadi karena alasan yang sepele. Andaikan orang-orang itu berfikir dengan kepala dingin, tidak mengedepankan emosi, gak bakal begini kejadiannya. Dan yang jelas, gue ga perlu balik jam 3 pagi. Gak ada untungnya saling bertikai. Tak akan menyelesaikan masalah. Hanya akan menambah masalah, dan menambah musuh. Bagaimana negara ini mau maju kalau sesama bangsa sendiri saling serang. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang harus disikapi dengan dewasa, tanpa perlu kekerasan, tanpa perlu pertikaian. Damailah Indonesiaku..!! Sesungguhnya, kita bersaudara..!!
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment