Rez

Off for a while!

100%

Put your email here if you want:

Comeback Later....
Copyright © Rez

Apa ini Cinta?


Beberapa hari yang lalu, temen gue, sebut saja namanya Bunga, cewek, usia 20-an, curhat ke gue lewat telepon. Dia curhat tentang hubungannya yang akhirnya kandas dengan cowoknya (yang gue juga kenal), yang udah berjalan 2 tahun lebih.

Padahal hubungan mereka sudah sangat serius. Secara usia mereka sudah matang, sudah sama-sama mapan dari sisi finansial dan pekerjaan, sudah saling dekat dengan keluarga masing-masing, dan bahkan sudah berencana akan menikah tahun 2014 ini. Penyebabnya? Menurut Bunga, disinyalir ada orang ketiga.

Bunga setengah nangis waktu cerita semuanya ke gue.

“Coba bayangin, Za. Gue udah sayang banget sama dia. Orang tua gue udah setuju. Gue juga deket banget sama orang tuanya. Nyokap dia juga sayang banget sama gue. Sering telponan sama gue, cerita macem-macem. Kurang apa coba?? Dia dulu bilang mau serius, mau nikahin gue. Tapi apa sekarang? Duhh, gue udah buang waktu gue selama 2 tahun sama dia, tapi gak ada endingnya...”

“Lu yakin ada orang ketiga..?”

“Yakin banget. Gue pernah mergokin dia BBM-an sama cewek lain. Dan sejak itu, dia jadi kasar. Emosian. Gak perhatian lagi sama gue. Gak kayak dulu...”

“Emang dulu dia gimana..?!”

“Awalnya gue tu gak ada perasaan sama dia. Tapi dia itu gigih banget. Perhatian banget sama gue. Tiap hari jemput gue ke kantor,ngelakuin hal-hal manis lain lah. Lama-lama gue luluh.. Tapi apa?! Cuih.. Dasar cowok. Awalnya aja manis, kalau udah dapet, semuanya berubah. Palsu..”

“Eh...eh... gak semua Cowok ya...”

Gue membela diri. Gue paling benci sama stereotip “Cowok itu brengsek”. Gue cowok, dan gue merasa gak brengsek. Jadi gue gak terima dong digeneralisir. Hahaha...

Akhirnya, gue perlu sampai satu jam buat menenangkan dia. Soal ini, gue ahlinya. Udah sejak zaman SMA gue jadi tempat curhat pacar temen-temen gue (yang kebetulan kebanyakan brengsek). Bukan apa-apa, bukan karena gue adalah total-wise-man yang bisa memecahkan semua masalah. Bukan!! Penyebabnya hanya,  waktu SMA, gue keseringan jomblo. Jadi mereka (Pacar-pacar temen gue) ngerasa save cerita ke gue, karena gak bakal ada yang marah.

Tut..tut...tut... telepon ditutup.

Gue sih penasaran, apa iya orang ketiga penyebabnya. Gue lantas mau menyelidiki hal ini. Gue BBM pihak cowok, sebut saja namanya si Fulan. Klarifikasi. Ya, dalam ilmu Auditing, gue belajar untuk tidak hanya percaya pada satu sumber. Harus dilakukan prosedur klarifikasi untuk membuktikan kebenarannya. Naluri Auditor emang gitu. Suka pengen tahu urusan orang. Karena kami dibayar memang untuk ngrecokin urusan orang, terutama yang berkaitan sama duit.

Setelah sedikit berbasa-basi, gue mulai melemparkan pertanyaan inti.

“Gimana lu sama si Bunga?”

“Udah putus”

“Lah, kenapa?! Katanya lu serius sama dia? Mau nikah sama dia? Kok...”

“Gak tau kenapa. Belakangan gue gak ada lagi perasaan sama dia. Udah gitu dia suka banyak ngatur-ngatur gue. Jangan boros lah, nabung lah buat nikah, dsb.. Gue capek. Gue jenuh.”

“Lah, kan bener dong. Kalau mau nikah emang harus nabung. Gak salah dong?”

“Iya, gak salah. Tapi di saat bersamaan.. ya itu tadi, perasaan gue ke dia hilang. Pas banget tiba-tiba ada temen SMA gue, Juminten, yang deket lagi sama gue. Gue ngerasa nyaman sama dia. Yah, selanjutnya lu tau lah gimana..”

Blarrrr.... Kejenuhan. Masalah klasik kayaknya ya?

Apa iya kejenuhan jadi penyebab utama suatu hubungan berakhir? Kok menurut gue, nggak ya.. Gue lebih suka menyebutnya, “tertipu perasaan”.

Eh, apaan tuh?

Oke. Mari kita tinggalkan sejenak Fulan dan Bunga. Semoga Yang Maha Kuasa memberi jalan yang terbaik buat mereka berdua. Mari kita bahas soal, “tertipu perasaan” ini.


Henry Manampiring, dalam bukunya “Cinta (tidak harus) Mati”, membuat sebuah tulisan yang sangat menarik, yang bisa menjelaskan penyebab banyak hubungan yang awalnya manis, menjadi tragis di tengah jalan. Ini dia kutipannya..

Cinta sering kali mati. Tetapi sebenarnya cinta tidak harus mati.

Kalau cinta diartikan sebagai rasa menggebu-gebu, keringat dingin, deg-degan, susah tidur, tai kucing rasa coklat, romantic dinner dengan lilin, berpandang-pandangan semalaman sampai jereng, dan buket bunga mawar, maka cinta harus mati. Dan akan mati.

Tahap “infatuation”, “passionate love”, saat-saat awal manusia jatuh cinta dan tergila-gila, secara neuroscience tidak ada bedanya dengan kondisi “high on drugs”. Otak kita dibanjiri hormon-hormon yang memberi rasa senang melayang, yang mungkin mirip dengan efek narkoba. Masalahnya, di artikel yang pernah gue baca, yang namanya “high” itu tidak bisa dipertahankan terus-terusan secara perspektif medis. Otak harus kembali ke equilibrium-nya. Di buku Happines Hypothesis oleh Jonathan Haidt disebutkan, saat passionate love padam, di sinilah tragedi cinta sering terjadi.
Karena kita kemudian mengira “high” itulah keadaan cinta sejati. Dan hilangnya “high” itu membuat kita mengira cinta sudah mati. Untuk selamanya. Dan kemudian mencari cinta baru yang bisa memberikan “high” itu.

Cinta yang membara memang harus mati. Karena dia harus memberi tempat untuk lahirnya sang pengganti, yaitu cinta lain yang tidak memabukkan, tetapi memberi rasa tenteram, aman, dan “companionship”.

Dan dalam cinta fase kedua inilah, menurut Jonathan Haidt, sebuah hubungan menjadi lebih tahan lama, dan membahagiakan. Dalam “companionship” sudah tidak ada mabuk atau “high” yang ‘seru’ seperti di film-film romantis, dan ia menjadi ekuilibrium itu sendiri.

‘Cinta’ memang harus mati. Masalahnya, apakah kita sabar menantikan reinkarnasinya.

Spot on. Hit banget ya tulisannya??!

Jadi itulah yang sebenarnya terjadi dalam hubungan Fulan dan Bunga. Fulan mengira, tidak adanya lagi deg-degan tiap ketemu Bunga, adalah pertanda bahwa cinta-nya ke Bunga sudah hilang. Dan tepat di saat bersamaan, ada orang lain yang bisa menghadirkan “passionate love” padanya, menawarkan “high”, yang lantas membuat Fulan berpikir, si Juminten adalah cinta sejatinya.

Tidak, Bung. Itu semua hanya ilusi. Seperti apa yang disebut dalam tulisan di atas, tak ubahnya rasa “high” pada orang-orang yang make narkoba. Rasa yang ketika tiba saatnya, akan hilang. Karena pada saat itu, otak kita kembali ke titik ekuilibriumnya (titik normal).

Dan itu, bukan berarti, bahwa rasa itu sudah hilang. Itu hanya “reaksi normal” yang dirasakan otak, karena dia sudah kembali ke titik ekuilibriumnya.

Dalan kasus Fulan, dia merasa Juminten adalah cinta sejatinya, karena Juminten bisa menghadirkan rasa “high”, tergila-gila, deg-degan tiap kali ketemu, dan hal-hal manis lainnya, yang tidak lagi dia rasakan dengan Bunga. Padahal, Bunga sayang banget sama Fulan, tulus dan tanpa pamrih. Hal yang belum terbukti pada Juminten. Bisa aja kan, Juminten cuma baik di awalnya, begitu jadian, blarr.. ternyata tabiatnya persis dengan tokoh antagonis di sinetron-sinetron tanah air yang hobinya mendelik sama ngerebut harta warisan. Ya, Fulan sudah tertipu dengan perasaannya sendiri.


Pernah kalian merasakan hal ini? Gue yakin pernah. Beberapa orang mengartikannya sebagai “Jenuh”. Mereka semua tertipu. Mengira bahwa cintanya dengan pasangannya telah hilang, dan lantas kembali berburu untuk mendapatkan ilusi yang sama, yang sama-sama tidak nyata, yang sama-sama tidak kekal.

Mau sampai kapan cari yang baru terus?

Sampai kita sadar, bahwa orang yang tulus mencintai kita, bukanlah orang yang setiap saat bisa membuat kita deg-degan. Bukan orang yang tiap saat bisa membuat kita “high”, bukan orang yang menawarkan cinta yang memabukkan.

Orang yang tulus mencintai kita, adalah orang yang rela berkorban buat kita, rela melakukan sesuatu untuk kita, sayang dengan kita, dan menerima kita apa adanya, tanpa pamrih. Tanpa berharap imbalan. Bahkan ekstrimnya, tanpa bisa memiliki kita.

Karena menurut gue, rasa “high” itu, pada umumnya semua orang yang baru kita kenal, yang lagi usaha pedekate sama kita, pasti bisa menghadirkannya. Karena rasa “penasaran” adalah pemicu “high” yang utama. Rasa “penasaran” yang tidak lagi ada terhadap orang yang sudah lama kita kenal. Ya gak..?! Itulah kenapa, banyak hubungan kemudian kandas karena kemunculan “orang baru”, yang sebenarnya belum tentu tulus mencintai kita seperti “orang lama”.

Jadi nih ya, menurut pengalaman gue sebagai “teman curhat”, jangan pernah kalian terbawa dengan “passionate love”. Jangan sampai kalian tertipu ilusi “high”. Pikirkan baik-baik setiap keputusan yang kalian buat. Karena segala sesuatu, pasti ada konsekuensinya.

Hal ini, semakin harus jadi perhatian untuk kalian yang terpisah jarak. Banyak orang LDR yang tertipu mentah-mentah dengan perasaanya sendiri. Merasa bahwa orang yang tiap hari bisa nemenin dia, menghibur secara langsung, merhatiin secara langsung, nganterin kemanapun, mengisi hari-harinya, yang tentu saja akan membawa “high” dan perasaan berbunga-bunga, adalah orang yang paling sayang dengannya di dunia ini. Yakin?! Pikirkan lagi. Gimana cara orang yang terpisah ribuan km, bahkan berbeda pulau, melakukan itu semua? Apa itu berarti orang yang ada di kejauhan gak sayang sama kamu? Nope. Ini semua, adalah karena jarak dan kesempatan. Pikirkan lagi, sebelum kamu menyesal udah salah pilih.

Gue punya contoh lain nih, kaitannya dengan hubungan berjarak di atas. Temen kakak gue, sebut saja namanya Joko, punya pasangan yang dia udah niat banget nikahin, sebut saja bernama Suzana. Mereka sangat bahagia. Kemudian, keadaan memaksa mereka berpisah. Karena pekerjaannya, Joko harus pindah. Di tempatnya bekerja, Joko terjebak dalam “cinta lokasi” dengan, sebut saja Poniyem, rekan kerjanya. Suzana, karena jarak, mustahil bisa nemenin hari-hari Joko seperti dulu. Joko tertipu. Dia merasa Poniyem adalah cinta sejatinya (dengan alasan yang sama dengan Fulan). Dia putus dengan Suzana, lalu memutuskan menikah dengan Poniyem. Setelah menikah, semuanya berbeda. Joko gak pernah bahagia dengan Poniyem. Tapi sudah terlambat. Joko bukan cowok brengsek yang tega seenak jidatnya menceraikan istrinya. Akhirnya sampai sekarang, Joko “terjebak” dengan pernikahan yang tidak bahagia, dan malah melampiaskannya dengan banyak “berkeliaran” di luar. Oke, mungkin terdengar kayak cerita sinetron, tapi Beneran, ini cerita Nyata..!!

Ya. Cerita kayak gini banyak terjadi. Karena melakukan itu semua, tetap memperhatikanmu, tetap memikirkanmu, dan tetap mengkhawatirkanmu dari kejauhan, dan mengorbankan waktu dan biaya untuk menempuh ribuan km dan menyebrangi pulau hanya untuk ketemu kamu, adalah jauh lebih sulit dibanding orang yang memang ada di dekatmu karena keadaan, karena kebetulan, bukan karena perjuangan.

Jadi dalam cerita di atas, Poniyem sebenarnya gak ngapa-ngapain. Emang keliatannya dia selalu yang ada di dekat Joko. Nemenin Joko. Ngobrol sama Joko. Tapi apa yang dia lakukan untuk dekat dengan Joko? Tidak ada kan?! Memang keadaan aja Poniyem kebetulan sekantor sama Joko. Jadi sebenarnya, Poniyem gak pernah berkorban untuk Joko. Gak pernah melakukan suatu hal yang luar biasa hanya untuk ketemu Joko. Beda dengan Suzana. Dia sesekali nengokin Joko, menempuh jarak yang tidak dekat. Suzana tetap sayang sama Joko, memperhatikan Joko, mengkhawatirkan Joko, meskipun dari jauh. Tapi Joko gak sadar itu. Dia tertipu ilusi. Hanya melihat apa yang ada di depannya, tapi tidak noticed terhadap pengorbanan-pengorbanan Suzana dari Jauh. Pada akhirnya? Joko menyesal sudah menyia-nyiakan Suzana. Tapi nasi sudah menjadi bubur...


Gue pernah bahas hal ini dengan temen gue yang lain, cewek. Dia lantas nanya balik ke gue, apa cara ampuh agar kita gak terbawa arus ilusi perasaan “high on drugs” ini. Bagaimana cara agar kita tetap sabar menunggu ‘cinta sejati’ itu, cinta yang ada di titik normalnya.

Well, kalau menurut gue sih, sederhana aja. Coba kamu ingat-ingat lagi, pengorbanan-pengorbanan yang pernah dilakukan orang buat kamu. Misalnya, dia rela panas-panasan nemenin kamu daftar ulang masuk kuliah, atau dia rela nganter jemput kamu kemanapun kamu mau, kejutan-kejutan yang pernah dia buat untuk nyenengin kamu, dan pengorbanan lain lah yang pernah dia lakukan buat kamu. Simple kan?

Terus untuk yang terpisah jarak, coba ingat hal-hal kecil yang pernah dia lakukan, yang mungkin selama ini luput dari perhatian kamu, karena kamu terlalu “mabuk” dengan “passionate love” yang ada di dekatmu. Misalnya, dia yang selalu bertanya kenapa, kapanpun dia tahu kamu lagi sedih, atau dia yang selalu mengirimkan hadiah-hadiah kecil, entah itu buku, lagu, atau apapun, yang dia tahu banget, kamu akan suka. Atau yang paling ekstrim, dia pernah melakukan suatu perjalanan jauh yang tidak masuk akal, hanya karena ingin ketemu kamu. Sekali lagi, orang yang melakukan itu semua tanpa pamrih. Murni dan tulus, hanya karena kamu... Ya, hanya karena kamu....


Cinta emang rumit ya. Gue sendiri juga bukan ahli soal percintaan dan perhubungan. Tapi paling gak, lewat tulisan ini, gue mau share sedikit buat kalian, hal-hal apa yang selama ini pernah gue tahu, pernah gue baca, pernah gue denger, ataupun pernah gue alami sendiri. Karena gue cukup yakin, bahwa penyesalan terbesar selalu datang ketika kita salah menetapkan pilihan. Dan ketika kita sadar telah salah, there’s no way back. Hanya ada sakit dan sesal, Seperti Joko, dan mungkin (kalau Juminten ternyata antagonis) seperti Fulan.

Jadi, itu aja sih. Pikirkan baik-baik setiap keputusanmu. Tanya hati kecilmu. Jangan tertipu dengan “passionate love” yang hanya menawarkan “high”. Karena bukan itu yang disebut cinta sejati.

Sekali lagi, mengutip tulisan Om Manampiring, “Cinta yang membara memang harus mati. Karena dia harus memberi tempat untuk lahirnya sang pengganti, yaitu cinta lain yang tidak memabukkan, tetapi memberi rasa tenteram, aman, dan “companionship”.”

Selamat hari Minggu, semuanya..  :)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment