indifferent : so what..?!



“Jangan kuatir saat tidak ada yang memperdulikanmu, tapi kuatirlah saat kau mulai tidak peduli pada sesamamu..”

Personal Message BBM salah seorang temen gue, beberapa hari yang lalu, sedikit menggelitik gue. Apa iya, sekarang orang sudah sedemikian tidak peduli?

Gue, dan juga kalian, semua yang lahir di medio 80-an sampai 90-an awal, mungkin “cukup beruntung” tumbuh besar di 3 masa. Sebelum internet, saat internet berkembang, dan masa sekarang.. masa dimana saat kita makan enak pun seluruh dunia harus tahu.

Apa hubungannya sama yang di atas..??

Well, maksud gue, karena kita tumbuh besar di 3 masa itu, kita jadi tahu bagaimana cara orang berinteraksi sebelum dan sesudah ada internet. Jadi kita bisa bandingin, gitu...

Ah..Om-om dan Orang tua kita juga tahu kan..??

Ya.. tapi gue yakin mereka gak pernah merasakan namanya cari kenalan lewat mIRC, tebar pesona di friendster, nyepik adik kelas di Facebook, Diskusi bareng komunitas di Kaskus, Ngepoin Twitter gebetan, atau menikmati senyum manis “calon istri” di Instagram. Yup, we grow up, so does the world.

Oke kalau begitu. Trus, apa hubungannya sama ketidak pedulian di atas..??

Itu dia yang mau gue bahas. Sekarang katanya kebanyakan orang itu gak peduli. Gak pernah sosialisasi dengan tetangga. Jarang ngobrol dengan teman sekantor. Tidak ada lagi hiruk pikuk obrolan di ruang tunggu bandara. Apa iya mereka tidak lagi peduli sesama..??

Padahal, kalau kita telaah lebih lanjut, ini semua, sedikit banyak, dipengaruhi oleh internet dan teknologi.

Contoh sederhana. Perjalanan panjang dalam kereta. Pasti membosankan. Dulu, sekitar tahun 2007-2008, saat dimana Android baru diciptakan, saat Symbian masih menguasai dunia, saat akses internet di Handheld tidak semudah sekarang, saat gue masih jadi pelanggan setia PT.KAI, orang-orang mengisi waktu dengan ngobrol. Berkenalan dengan strangers yang kebetulan duduk sebangku, membicarakan banyak hal, mulai dari pertanyaan normatif, asli mana - sekolah/kuliah/kerja dimana, membahas politik, sepakbola, sampai ekonomi dunia. (Hasyahh..). Itu dulu. Kalau sekarang?! Memainkan jemari di layar 4-7 inchi, menyapa teman lama yang jauh di sana.

Berinteraksi dengan strangers, atau dengan kenalan yang tidak terlalu akrab, atau dengan teman yang tidak terlalu dekat dan berbeda sifat, atau dengan tetangga yang (mungkin) menyebalkan, terkadang terasa tidak nyaman dan kurang menarik bagi sebagian orang. And the worst fact, kadang kita tidak punya alasan untuk keluar dari situasi ini.

Tapi sekarang, orang bisa menghindari awkward moment seperti ini, meskipun berada di lingkungan dan orang-orang yang asing dan tidak akrab, dengan “memutuskan” dari awal, akan berinteraksi dengan orang-orang yang kita kenal baik, sahabat kita, keluarga kita, atau pasangan kita, meskipun ada jauh disana.

Apa dengan begitu, bisa dibilang tidak peduli??!

Menurut gue, adalah alamiah bahwasanya orang selalu mencari kenyamanan dalam segala hal. Obrolan, pertemanan, pasangan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Dan ketika teknologi MEMUNGKINKAN orang untuk mendapatkannya, itulah yang kita lakukan. Tanpa memperdulikan hal lain, di depan mata, yang secara sadar atau tidak, kita akui sebagai “kurang nyaman”, atau “kurang menarik”


Kalau menurut gue, itu hanya sebuah kepedulian dalam bentuk lain. Teknologi membuat kita menjadi kurang (atau tidak..) peduli dengan lingkungan dan orang-orang sekitar yang “kurang menarik/kurang nyaman”, tapi justru peduli terhadap orang-orang dan hal-hal yang jauh dari kita, yang kita anggap “nyaman” dan “menarik”.

That’s the point. Dan menurut gue, itu gak salah...

Yang menurut gue kemudian menjadi salah adalah, ketika kita tidak lagi mentolelir “ketidaknyamanan” itu...
Sama sekali tidak mau terjebak di dalamnya, untuk sedikit “peduli” dan menyenangkan orang lain di sekitar kita.

Padahal ada saat dimana kita harus melepaskan ego kita sedikit, berempati dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita, yang sebenarnya, “kurang menarik” untuk kita, yang kadang menyebabkan kita “tidak nyaman”. Tapi, hal itu perlu kita lakukan, for the greater good. At least, untuk orang lain.

Gak ada salahnya kita sedikit meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga, menjenguk kenalan kita yang tengah sakit, membantu apa yang kita bisa untuk orang lain yang tengah kesulitan, berbela sungkawa untuk orang lain yang tengah berduka, atau sekedar sedikit basa-basi dengan teman sebangku di pesawat.



Sedikit dari kita, tapi yakinlah, sangat berarti untuk orang lain.. Bukankah sudah dikatakan, bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

Will i..?? Will you..?? Will us..??


Karena kalau tidak, sisi humanisme mungkin akan semakin luntur, bahkan ketika kita berinteraksi dengan teknologi..

Saat dimana me-reply twit galau temen dibilang KEPO, saat dimana melihat album foto di FB dibilang STALKER. Padahal itu kita lakukan karena kita peduli. Ironic, eh..??!



Ataukah kita lupa bagaimana cara kita berinteraksi dulu..??!

Mengetuk pintu rumah teman untuk menemuinya, bukan menelepon/bbm/whatsapp supaya dia keluar..
Bermain layangan di sore hari, bukan hanya main Pokopang di Line..
Bertukar koleksi kaset, bukan sekedar nanya link download..
Sengaja datang ke Pensi sekolah lain untuk menambah kenalan, bukan sekedar search-add di facebook..

Miss that time..??
Ahh...Welcome to modern world, fellas... :)


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar