Personality Disorder - Social Phobia


Beberapa hari yang lalu, ada salah seorang pembaca blog gue, yang gue gak tahu siapa dan dimana, nge-chat gue via Hangout. Meskipun Aplikasi messenger besutan google ini kurang laku, inilah sisi menariknya. Kita bisa nge-chat dengan siapapun tanpa perlu prosedur add-approve, cukup “tambah ke lingkaran”, semacam follow di twitter. Lebih bebas dan tidak terikat.

Jadi, Mbak Mawar ini (kita sebut saja demikian), gak pernah memperkenalkan diri. Dia cuma bilang, dia sering baca blog gue, dan menurut dia, mungkin gue bisa ngasih saran terkait permasalahan yang sedang (errr...atau terus) dihadapinya.

Awalnya gue heran. Bagaimana orang yang gak kenal, gak tahu apa dan bagaimana latar belakang dan jalan hidupnya, bisa ngasih saran. Tapi toh, gue iyakan juga. It’s always nice to help others, bahkan meskipun kita tidak mengenal orang itu. Lagipula, itu juga pernah disabdakan Rasulullah. (sadaaaappp....)

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah, dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Satu hal yang gue sadari dari cerita Mawar adalah, persoalan yang dia hadapi bukanlah sesuatu yang biasa. Rumit. Karena jawaban gue saat itu tidak memberi solusi, gue minta waktu 1-2 hari untuk baca-baca literatur dan bertanya ke beberapa teman. Tapi, 1-2 hari itu akhirnya jadi 1-2 minggu karena kesibukan gue. Hehehe.. (Sorry Mbak Mawar... :D). Karena ternyata “jawaban” yang gue temukan atas permasalahannya panjang banget, gue minta ijin ke dia untuk mem-publishnya di blog. Alasannya sederhana, jempol gue bakal pegel kalau nulis sepanjang artikel ini di layar touchscreen 4 inchi. Lagipula, gue melihat permasalahan Mawar ini menarik, mungkin bisa memberikan pembelajaran lain untuk kita semua.

Supaya kalian bisa lebih memahami masalahnya, gue screenshoot chatroom hangout gue sama dia. Tentu saja, dengan mengaburkan username dan profil picture dia.

So, here we go....
(biar ngirit space, gue rekap screenshoot-nya jadi 2 in 1.. bacanya tiap image dari kiri ke kanan...)






So that’s the story. Rumit ya. Gue bukan psikolog atau psikiater (kalian tahu gak bedaaanyaa... :p. sederhananya sih, psikiater itu kuliahnya di kedokteran, kalo psikolog itu kuliahnya ya psikologi...). Juga bukan a-total-wise-man yang bisa memecahkan semua masalah. Gue hanyalah orang yang suka mencari tahu hal-hal baru yang sebelumnya gue gak tahu.

Jadilah, kemudian gue baca-baca banyak literatur tentang psikologi. Kebetulan juga, akhir tahun lalu, seperti udah gue tulis sebelumnya, gue pernah penugasan selama 1,5 bulan di Rumah Sakit Jiwa. Dari situ, gue dapet banyak kenalan baru: dokter jiwa, psikiater, psikolog, dan perawat, yang pastinya paham banget masalah kejiwaan. Dari baca-baca literatur dan ngobrol-ngobrol dengan ahlinya inilah, gue memberanikan diri untuk mencoba manganalisis masalah Mbak Mawar, supaya dia punya solusi untuk mengatasinya

Disclaimer : Sekali lagi, gue bukan psikolog atau psikiater. Jadi, kalau ada kesalahan-kesalahan dalam penyampaian gue, baik terjemahan, istilah ilmiah, teori yang dikutip, atau analisis gue yang salah, tolong dimaafkan dan kalau bisa dikoreksi. Gue tidak bermaksud sotoy. I just love to observe and share. Jadi, apapun yang bernada teoritis dan ilmiah disini, gue sertakan link sumber-nya, sebagai bukti bahwa gue gak asal ngomong sesuatu yang bukan keahlian gue.  ;)

Awalnya, Mawar sempat sedikit “tersinggung” waktu gue kemukakan kemungkinan, ada Mental Disorder yang dialami Mawar. Dia sempat marah karena mengira gue telah “menuduh” dia “sakit jiwa”. Tidak. Punya mental disorder, bukan berarti sakit jiwa. Secara sederhana, mungkin bisa disebut sebagai “gangguan kepribadian”. Hanya gangguan, bukan sakit. Klasifikasi mental disorder ini tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sebuah klasifikasi standar gangguan kejiwaan yang dirilis oleh American Psychiatric Association.

Bener loh. Kalian jangan merasa yakin bahwa kalian itu udah sehat jiwa secara keseluruhan. Bahkan stres dan depresi ringan, kalau dibiarkan bisa semakin menjadi. Kalau gak percaya, ini dia poster yang tertempel di Rumah Sakit Jiwa, tentang kriteria sederhana seseorang bisa dikatakan sehat jiwa seluruhnya.


Hemmm...gimana? Masih ada yang kurang di diri kalian? Kalau masih ada, coba deh diagnosis pribadi apa kekurangannya, dan cari tahu di DSM apa jenis gangguan yang mungkin ada di diri kalian, lalu cari artikel tentang bagaimana mengatasinya. Sebelum terlambat. :p

Kalau kita melihat DSM secara menyeluruh, disitu bisa dilihat, bahkan depresi berkepanjangan, (semisal karena.. errr..kuliah gak lulus-lulus atau kalah dalam pemilu legislatif padahal udah utang banyak buat modal kampanye) saja sudah dikategorikan sebagai mental disorder. Dalam DSM, dijelaskan ciri umum yang sering ditemui dalam setiap jenis gangguan kejiwaan. Dari situ, kita bisa melakukan analisis sederhana, mengenai kecenderungan apa yang ada pada diri seseorang, sehingga kita bisa menemukan solusi dan langkah pencegahan agar tidak semakin menjadi.


DSM

Oke, kembali ke Mawar. Ini yang bikin gue bingung. Udah gue ubek-ubek itu DSM, gue gak nemu satupun jenis mental disorder yang secara persis menggambarkan kondisi yang dialami Mawar. Sekali lagi, karena gue gak pernah kuliah psikologi atau kedokteran spesialis kejiwaan. Akhirnya, dari beberapa ciri yang mungkin mirip dengan apa yang dialami Mawar, gue mengira-mengira sebuah kesimpulan. Ada kecenderungan Personal Disorder, dengan jenis Paranoid Personality Disorder, yang dipengaruhi oleh sebuah Paranoia atau Phobia. Mari kita kupas satu persatu.

Personal Disorder, secara umum didefinisikan sebagai gangguan kepribadian yang berkaitan dengan cara berpikir serta perasaan tentang diri sendiri dan orang lain, yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana fungsi individu dalam berbagai aspek kehidupan.

Kepribadian sendiri, kalau didefinisikan secara psikologis, adalah himpunan ciri-ciri perilaku dan mental yang membedakan manusia. Ciri-ciri seperti : baik, rajin, suka ini, suka itu, royal, pelit, galak, sensitif, gampang marah, sabar, lucu, kaku, pendiam, bawel, dan lain sebagainya. Jadi misalnya, kita mengenal Om Parhat Abas sebagai Om Parhat Abas, karena dia punya kepribadian yang beda dari yang lain, dengan himpunan ciri-ciri : sotoy, emosian, suka cari sensasi, bokis, dsb. Kira-kira gitu deh.

Oleh karena itu, gangguan kepribadian secara sederhana bisa diartikan sebagai perilaku yang berbeda dari norma-norma dan harapan yang umum berlaku di masyarakat. Mereka yang didiagnosis dengan gangguan kepribadian mungkin mengalami kesulitan dalam kognisi, emosi, fungsi antarpribadi, atau kontrol impuls (rangsangan).

Seseorang diklasifikasikan memiliki gangguan kepribadian jika kelainan perilaku mereka mengganggu fungsi sosial atau pekerjaan mereka. Selain itu, gangguan kepribadian mengakibatkan seseorang tidak fleksibel dan tidak bisa berbaur di banyak situasi. Pola perilaku ini biasanya terjadi pada masa remaja dan awal masa dewasa, serta dalam beberapa kasus yang tidak biasa, pada masa anak-anak.

Itu dia definisi-nya, seperti yang gue temukan disini, disini, dan disini. Jadi, dalam kasus Mawar, dia jadi sangat membatasi dirinya (borderline) dalam pergaulan dengan lawan jenis, which is, bertentangan dengan norma masyarakat secara umum, karena alasan yang berkaitan dengan perasaannya. Mawar takut untuk bergaul dengan lawan jenis, karena dia takut akan jatuh cinta, dan kemudian terjerumus melakukan hal-hal yang... well, whatever. (you know what i mean, right?! :p). Bisa dikatakan, Mawar memiliki kesulitan dalam mengatur emosi, fungsi antar pribadi, dan kontrol atas impuls (rangsangan) yang diterimanya, yang secara khusus dalam kasus Mawar, adalah dengan lawan jenis.

Sayangnya, pembatasan diri ini, akhirnya mempengaruhi sikap dan tindakan Mawar secara keseluruhan. Dia kemudian menjadi terlalu takut, dan malah memutuskan untuk menarik diri secara penuh, yang akhirnya, lama-kelamaan, justru malah membuat dirinya semakin terjebak dalam ketakutan, dan  mungkin saja, depresi, yang pastinya, secara langsung maupun tidak, akan membawa dampak buruk dalam fungsi sosial dirinya.

Nah, sesuai DSM, Personal Disorder ini macemnya ada 10, yaitu :

Dari ciri-ciri yang disebutkan, kasus Mawar ini paling mirip dengan kecenderungan Paranoid Personality Disorder. (selanjutnya, untuk meringankan beban gue ngetik, mari kita sebut dengan PPD).

PPD, secara umum dapat diartikan sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan paranoia (ketakutan) yang meresap, kecurigaan, dan ketidakpercayaan pada orang lain. Individu dengan gangguan kepribadian ini mungkin hipersensitif. Mereka berpikir bahwa mereka berada dalam bahaya dan mencari tanda-tanda dan ancaman bahaya itu.

Paranoia sendiri, dapat diartikan sebagai proses pemikiran yang diyakini sangat dipengaruhi oleh kecemasan atau ketakutan, sering ke titik yang irasional. Pemikiran paranoid biasanya meliputi keyakinan persecutory, atau keyakinan konspirasi mengenai ancaman yang dirasakan terhadap diri sendiri. Paranoia hampir sama dengan fobia, yang juga melibatkan ketakutan irasional, tetapi biasanya tidak menyalahkan.


Kecenderungan paranoia bisa mengarah ke phobia, yang dalam kasus Mawar, secara khusus mengarah ke social phobia. Social phobia adalah ketakutan terhadap situasi publik yang mengarah ke malu atau “hummiliation” dalam kriteria diagnostik . Orang dengan fobia sosial memiliki perasaan ekstrim akan kesadaran diri, dengan membangun sebuah ketakutan yang besar.

Dalam kasus Mawar, penarikan dirinya dengan pergaulan dengan lawan jenis, disebabkan oleh sebuah ketakutan akan hubungan dengan lawan jenis, dimana dia merasa bahwa itu akan mengarah kepada perbuatan...well, whatever, yang sebenarnya, belum sama sekali terbukti. Mawar merasa tidak percaya, baik dengan dirinya sendiri maupun orang lain (dalam hal ini cowok) bisa menjaga diri masing-masing untuk tidak berbuat well, whatever.

Apalagi, Mawar sendiri mengakui, terkadang seperti ada bisikan-bisikan yang tidak mampu dia tahan, setiap kali dia melakukan kontak dengan lawan jenis. Bisikan-bisikan dan ketakutan yang sebenarnya tidak nyata, belum terjadi, dan belum bisa dibuktikan. Singkatnya, Mawar creates problems that wasn’t even exist from the first place.

Pikiran-pikiran tidak rasional, ketakutan berlebihan akan sebuah hubungan, ketakutan berlebihan bahwa hubungan tersebut akan mengarah ke perbuatan...well, whatever, mengarah ke kesimpulan pribadi yang akhirnya dibuat oleh Mawar.....membangun tembok besar untuk sama sekali tidak berhubungan dengan lawan jenis.

Problem solved? Not even close. Yang ada, masalahnya akan semakin runyam. Sudah menjadi ketetapan, bahwa manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, tua-muda, pria-wanita, berbangsa-bangsa, dan lain sebagainya. Ketidakmampuan kita untuk beradaptasi dan menjaga diri dari hal-hal yang merusak, tidak boleh dijadikan alasan satu-satunya untuk kita menarik diri dari pergaulan. Because if you decided to do so, yang ada malah terjerumus dalam depresi, tertekan, dan terus dihantui rasa takut yang tidak berasalan akan masa depan.

Widiiiwww... Ngeri yeee....



Jadi, apa sebenarnya penyebab dari rasa ketakutan yang kemudian menjalar kemana-mana ini? Dalam berbagai literatur seperti disinidisini, dan disini, phobia dapat muncul karena faktor lingkungan dan mekanis otak itu sendiri.

Menurut teori Om Stanley Jack Rachman, terdapat tiga jalur untuk “memperoleh” phobia : classical conditioning (pengkondisian klasik), vicarious acquisition (akuisisi perwakilan) dan informational/instructional acquisition (akuisisi informasi / instruksional).

Classical conditioning, secara umum bisa dijelaskan sebagai munculnya rasa takut akan sesuatu, karena pernah mengalami pengalaman yang sangat buruk akan sesuatu di masa lalu. Ingatan ini, terus berulang kemudian, tidak hanya terkait peristiwanya saja, tapi bisa juga hal-hal yang berhubungan dengan peristiwa itu. Misalnya, seseorang pernah hampir mati jatuh dari ketinggian, yang kemudian membuat subjek jadi memiliki phobia akan ketinggian.

Vicarious acquisition, adalah sebab munculnya rasa takut akan sesuatu, bukan oleh pengalaman subjek sendiri, tapi karena melihat orang lain bereaksi ketakutan. Misalnya, ketika anak melihat orangtuanya bereaksi takut pada kecoa, anak bisa menjadi takut kecoa juga.

Sedangkan Informational / instructional acquisition adalah sebab munculnya takut akan sesuatu dari mendapatkan informasi. Misalnya, takut kawat berduri setelah mendengar bahwa menyentuhnya akan menghasilkan kejutan listrik.

Dari definisi di atas, mari kita bandingkan dengan kasus Mawar. Dari ceritanya, Mawar tidak pernah mengalami kejadian yang ditakutkannya itu. Dia belum pernah sampai “kebablasan” dalam hubungannya dengan lawan jenis. Tapi dia mendengarnya dari pengalaman tetangga-tetangga dan saudara-saudaranya, yang beberapa diantaranya sampai MBA (Married by accident-Menikah karena kecelakaan).

Menikah karena tabrakan...

Bukan. Maksudnya bukan Menikah karena kecelakaan kayak di FTV atau Sinetron. Dimana sering dua orang tokoh utamanya yang akhirnya jatuh cinta dan menikah bahagia, pertama kali ketemu dalam sebuah kecelakaan mobil atau tabrakan di supermarket. Hahaha.. (kidding...). The truth, tahu dong maksudnya MBA, tekdung duluan sebelum nikah. Gitu deh.

Nah, lebih lanjut dijelaskan, bahwa sebuah respon takut yang dirasakan untuk suatu objek atau situasi, tidak selalu adalah fobia. Untuk memenuhi sebuah rasa takut disebut fobia, juga harus ada gejala penurunan dan penghindaran dari yang bersangkutan. Penurunan didefinisikan sebagai tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas rutin, apakah pekerjaan, akademik, atau sosial. Sedangkan penghindaran didefinisikan sebagai perilaku menghindari/menarik diri dari suatu peristiwa tidak menyenangkan yang mungkin terjadi, dengan tujuan mencegah terjadinya hal yang ditakutkan tersebut.

Jadi kalau dilihat dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Mawar mempunyai phobia akan hubungan dengan lawan jenis, yang disebabkan oleh Informational / instructional acquisition, dimana orang-orang di sekitarnya banyak yang berakhir dengan anak sudah di kandungan saat akad nikah. Informasi yang datang secara simultan dan terus menerus, lama kelamaan menjadi pemicu munculnya rasa takut yang berlebihan, yang pada akhirnya, membuat Mawar memutuskan untuk menarik diri dari hal yang ditakutkannya tersebut (kontak dengan lawan jenis), yang pada akhirnya, secara langsung atau tidak, mengakibatkan gejala penurunan dalam kehidupan pribadinya.

Well, kira-kira itu kesimpulan dari hasil analisis gue dari beberapa litaratur yang gue baca, dan beberapa obrolan dengan ahlinya. Nah, artinya, kalau kita lihat secara overall, masalah Mawar terutama ada pada ketakutannya akan “kebablasan”, melakukan..well, whatever dengan cowok, dan berakhir dengan MBA seperti Agnes Monica dan Syahrul Gunawan dalam sinetron Pernikahan Dini.


Apakah ketakutan itu beralasan? Bisa Ya, bisa Tidak. Beralasan, karena telah ada beberapa fakta kejadian yang didengar Mawar yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Tidak beralasan, karena bahkan, Mawar belum pernah mencoba untuk “membiasakan diri” bergaul dengan lawan jenis secara “baik dan benar”. Rasa takut yang berlebihan itu, membuatnya tidak punya keberanian untuk memulai. Padahal, just like a wise man once said, You’ll never know if you never give a go...

Jadi sekarang, saatnya cari solusinya...
Dari beberapa penjelasan disini, ini, itu, dan disini, ada beberapa solusi yang bisa menjadi jalan keluar dari permasalahan ini. Bisa dengan psikoterapi, antidepresan, antipsikotik dan obat anti-kecemasan. Well, mungkin sebaiknya kita lupakan dulu soal obat.

Dari berbagai alternatif yang mungkin bisa dilakukan, menurut gue, Cognitive behavioral therapy (CBT) layak dicoba, dan paling realistis. CBT adalah pendekatan psikoterapi yang membahas disfungsi emosi, perilaku maladaptif (tidak bisa beradaptasi) dan proses kognitif melalui sejumlah langkah yang berorientasi tujuan dan prosedur sistematis eksplisit.

Ahhh....ribet. Teknis banget bahasanya. Sederhananya gimana?

Oke, gue coba sederhanakan. Kalau ada psikolog/psikiater yang baca ini, dan ternyata salah, tolong dikoreksi. CBT (Terapi perilaku kognitif) memungkinkan subjek untuk menantang pikiran atau ketakutannya dengan memperhatikan perasaan mereka sendiri, dengan tujuan agar subjek nantinya menyadari bahwa ketakutan mereka adalah irasional. Data menyebutkan, CBT sering berhasil, asalkan subjek bersedia untuk bertahan dalam ketidaknyamanan yang dirasakannya selama proses “pemaksaan ketakutan” ini. Dalam satu percobaan klinis, 90% subjek yang diamati, tidak lagi memiliki reaksi fobia setelah perawatan CBT berhasil.

CBT sendiri, memiliki 6 fase (gue tulis istilah aslinya, gue takut salah nerjemahin) :
  1.     Assessment or psychological assessment (Asesmen diri);
  2.     Reconceptualization (mengkonsep ulang pola pikir);
  3.     Skills acquisition (mengasah kemampuan mengakusisi/menghilangkan ketakutan);
  4.     Skills consolidation and application training (konsolidasi kemampuan dan latihan penerapan);
  5.     Generalization and maintenance (generalisasi dan perawatan);
  6.     Post-treatment assessment follow-up (penilaian tindak lanjut pasca perawatan).
Nah, dalam menjalankan fase-fase tersebut, ada beberapa teknik yang umum dipakai, yaitu konsultasi dan bimbingan secara langsung dengan terapis/psikolog/psikiater, dengan komputer, Reading self-help materials (baca dan lakukan sendiri langkah penyembuhan), dan dalam sebuah grup kelas bimbingan.

Salah satu Contoh Pola Penerapan CBT
 
Secara detail, gue gak akan menjelaskan hal-hal apa saja yang dilakukan pada fase-fase CBT tersebut. Hemmm.. itulah, terlalu rumit, karena sekali lagi, gue bukan psikolog atau psikiater. Kalau kalian minta gue jelasin soal auditing, pengadaan barang/jasa pemerintah, Fraud, atau tetek bengek keuangan negara lainnya, gue akan tanpa ragu jelasin secara gamblang. Tapi kalo soal ini, gue angkat tangan. Gue takut salah kalau udah menyentuh aspek yang sangat teknis. Gue disini, hanya menjelaskan kulit-kulitnya saja. Kalau kalian merasa perlu penjelasan yang lebih detail dan rinci, mungkin ada baiknya kalian cari lagi sumber-sumber literatur lain, selain dari link yang sudah gue berikan di atas, juga konsultasi ke ahlinya.

Tapi nih ya, untuk Mawar, gue akan coba berikan alternatif sederhana yang mungkin bisa dicoba, dengan menggunakan pola fase-fase CBT, secara DIY (do-it-yourself). Sekali lagi, ini hanya pendapat gue, yang bukan ahli di bidang ini. Boleh dicoba, boleh tidak.

Assessment or psychological assessment (Asesmen diri)
Yup. Ases dirimu sendiri. Yah, paling tidak, lewat tulisan ini, gue sedikit banyak udah kasih gambaran, ciri-ciri perilaku yang mungkin mirip dengan apa yang kamu alami. Tapi, hanya kamu yang tahu dirimu sendiri. Mungkin masih ada hal-hal lain yang kamu rasakan yang nggak diceritain ke gue. Jadi, coba analisis lagi, apa-apa aja yang ada di dirimu, dan pelajari lebih dalam, bisa menggunakan sumber yang sudah gue berikan di atas, atau juga mencari sumber lain yang lebih banyak.

Reconceptualization (mengkonsep ulang pola pikir)
Kalau sudah ketemu akar persoalannya, coba untuk mengkonsep ulang pola pikirmu. Hilangkan rasa takut itu. Jangan terus-terusan memikirkan cerita-cerita pilu tetangga-tetangga yang sudah lewat itu. Sebaliknya, coba banyak cerita dengan temen-temenmu dan cari tahu kisah lain soal hubungan cinta, yang prosesnya baik dan ujungnya berakhir bahagia. Hal ini, menurut gue, mungkin bisa merubah pola pikirmu, bahwa tidak tidak semua cowok itu brengsek, dan tidak semua hubungan cinta akan berakhir di ranjang sebelum menikah. Jangan ragu untuk cerita dengan orang lain. Tidak setiap orang bisa menawarkan solusi, tapi paling tidak, dengan cerita, beban di pikiran akan berkurang, dan menghindarkan dirimu dari kemungkinan stress dan depresi. Ingatlah, kamu gak sendirian di dunia ini. Coba juga untuk berani memasuki lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kamu kenal, untuk lebih tahu cerita banyak orang, sehingga bisa merubah pola pikirmu, bahwasanya, tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada.

Skills acquisition (mengasah kemampuan mengakusisi/menghilangkan ketakutan)
Sudah?  Sekarang, coba latih pola pikirmu yang sudah berubah ini. Caranya? Simpel aja sih menurut gue. Daripada terus menghindar, tantang dirimu sendiri untuk mulai menjalin pergaulan dengan lawan jenis. Gak perlu aneh-aneh dan terlalu jauh. Coba untuk sekedar ngobrol dengan teman kerja, rekan bisnis, atau tetangga rumah. Untuk awalnya, pastikan bahwa kamu bisa menjaga diri dari pikiran negatif dan rasa takut berlebihan.Yakinkan pada dirimu sendiri, bahwa tidak akan terjadi apa-apa, selama kamu bisa jaga diri sendiri dan tahu batasan. Ya, seperti udah dijelaskan di atas, CBT akan berhasil, kalau subjek “rela” untuk bertahan dalam ketidaknyamanan yang dirasakannya selama proses “pemaksaan ketakutan” ini. Push yourself.

Skills consolidation and application training (konsolidasi kemampuan dan latihan penerapan)
Langkah selanjutnya, melangkah lebih jauh. Tantang dirimu sendiri untuk lebih banyak bergaul. Kalau masih tetap takut tidak bisa menjaga diri, gampang aja kok. Pastikan aja setiap kali berkomunikasi dengan lawan jenis, ada orang lain. Paksakan dirimu untuk bisa nge-blend dan tidak canggung dalam suatu kelompok/komunitas yang terdapat cowok di dalamnya. Biasa aja. Anggap aja mereka itu semua sama, teman-temanmu. Paksa. Terus. Jangan Takut.

Generalization and maintenance (generalisasi dan perawatan)
Kalau sudah mulai berani, pertahankan itu terus. Jaga terus pikiranmu untuk tetap stabil dan tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Pertahankan.

Post-treatment assessment follow-up (penilaian tindak lanjut pasca perawatan)
Dan yah, pada akhirnya, coba nilai dirimu sendiri. Sudahkan kamu mampu mengalahkan rasa takut? Sudahkah kamu bisa bersikap normal dan biasa pada lawan jenis? Sudahkah kamu bisa menjaga emosi dan perasaan untuk tidak terlalu sensitif dan terlalu mudah jatuh cinta? Sudahkan kamu bisa nge-blend dan tidak canggung pada semua situasi, ada atau tidak ada laki-laki disitu? Sudahkah, semua kekhawatiranmu hilang? Kalau sudah, selamat. Mungkin itulah saat kamu bisa berpikir tenang, dan harus mulai memberanikan diri untuk sebuah langkah yang lebih maju. Sebuah hubungan yang serius, yang berujung pada sebuah pernikahan yang bahagia. Semoga.

===++===

Yup. Kira-kira itu lah yang bisa gue share di kesempatan kali ini. Kalau ada penyampaian gue yang salah, baik terjemahan, istilah ilmiah, teori yang gue pakai, atau analisis gue yang salah, mohon dikoreksi. Karena sekali lagi, gue bukan psikolog, psikiater, atau dokter ahli jiwa. Gue bukan mau sotoy. Gue bukan mau belagak paling tahu. Tapi, Gue hanyalah orang yang suka mencari tahu hal-hal baru, dan membagikannya lewat cerita.

Ada pepatah bilang, Tak ada gading yang tak retak. Tapi kok menurut gue kayaknya ada gading yang tak retak, yaitu Gading Marten.
Itu Sudah.


Sumber :
Semua link yang gue sertakan dalam tulisan, Tanya-tanya  Dokter jiwa dan psikiater di RSJ, dan Obrolan bersama teman-teman gue yang sarjana psikologi.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar